Masjid AsSyakirin Kuala Lumpur Malaysia

Zaid Ibn Haritsah, Namanya Terukir dalam Al-Qur’an

Masjid AsSyakirin Kuala Lumpur Malaysia
Masjid AsSyakirin Kuala Lumpur Malaysia

Rasulullah berdiri tegap di hadapan pasukan tempur kaum Muslimin yang berjumlah 3000 orang. Mereka bersiap-siap melawan tentara Romawi yang berjumlah 200 ribu orang dalam perang Muktah. “Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid ibn Haritsah!” sabda Rasulullah lantang. Beliau memang sangat mempercayai kemampuan pemuda yang jujur, berjiwa besar, lembut hati, tutur sapa dan sikap itu, yang beliau kenal sejak kecil.

Setiap kali pasukan Islam dikirim untuk berperang, pastilah Zaid yang dipercaya memimpinnya. “Seandainya ia masih hidup sesudah Rasulullah meninggal, tentu ia akan menjadi khalifah,” ujar Aisyah RA, istri Nabi SAW suatu ketika.

Perang Muktah (8 H) menjadi puncak pengabdian Zaid kepada Islam dan Rasulullah. Kala itu, di daerah Balqa’ wilayah Syam (Syiria), tentara Islam harus bertempur melawan tentara Romawi pimpinan Heraklius. Kedua pasukan bertemu di Muktah, nama daerah yang kemudian dijadikan nama pertempuran itu.

Meski kalah jumlah personil, Zaid tak gentar. Sambil memegang panji pasukan Islam, ia terobos pasukan musuh. Akhir hayat Sahabat Nabi yang pernah menjadi panglima perang Badr, dan perisai tubuh Nabi ketika perang Uhud, andil dalam perang Khandak, perjanjian Hudaibiyah, penaklukan Khaibar, dan perang Hunain ini, terjadi pada pertempuran sangat heroik itu. Di Muktah ia tertusuk tombak, dan syahid. Setelah itu pasukan Muslimin harus terdesak mundur oleh pasukan Romawi.

 

Anak angkat Nabi

Kesyahidan Zaid diketahui Rasulullah melalui kabar wahyu, sebelum pasukan Muslimin kembali ke Madinah. Tak kuasa beliau menahan air mata. Karena Zaid telah menjadi sahabat setia yang beliau asuh sejak kecil.

Alkisah, saat masih kecil, Zaid diajak ibunya, Su’da, mengunjungi kerabat di kampung Bani Ma’an. Tak lama tiba di tujuan, kampung itu diserang gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk dikuras, dan beberapa penduduk ditawan, termasuk Zaid.

Para perampok kemudian menjual barang-barang dan para tawanan di pasar Ukaz. Zaid dijual kepada Hakim ibn Hizam. Hakim kemudian memberikan Zaid kepada saudaranya, Siti Khadijah istri Rasulullah. Khadijah pun menyerahkan Zaid untuk dijadikan pelayan oleh suaminya itu, tapi beliau malah langsung memerdekannya.

Zaid beliau asuh dan didik hingga dewasa, dengan kelembutan dan kasih sayang, layaknya anak sendiri. Suatu ketika, saat musim haji tiba, Zaid bertemu sekelompok penduduk desa kelahirannya. Mengetahui Zaid masih hidup, mereka ingin memberitahukannya kepada orangtua Zaid. “Tolong sampaikan kepada orangtuaku, bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia,” ujar Zaid kepada mereka.

Tak lama orangtua Zaid bertandang ke Mekkah dan menemui Rasulullah untuk meminta kembali anaknya dengan uang tebusan seadanya. Rasulullah memanggil Zaid dan menanyakan pilihan, mau ikut orangtuanya atau tetap bersama beliau.

“Tak ada orang pilihan bagiku, kecuali Engkau (Muhammad). Engkau ayah, dan pamanku,” ujar Zaid. Meski menolak kembali bersama orangtuanya, Haritsah ayahanda Zaid gembira karena anaknya menjadi anak asuh keluarga ternama kaum Quraisy.

Zaid termasuk kalangan Sahabat yang pertama-tama membenarkan kenabian Muhammad (as-sâbiqunal-`awwalûn). Sosok Zaid kian harum ketika Allah menyebutkan namanya dalam al-Qur’an surah al-Ahzâb ayat 37, yang berisi syariat bolehnya menikahi mantan istri dari anak angkat. [FR]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Muslimah Indonesia di Melbourne Galang Dana untuk Masjid

SUARAMASJID.com| Melbourne– Perempuan muslim Indonesia di Melbourne yang tergabung dalam Indonesian Muslim Community of Victoria …

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …

Translate »