Risiko yang Disebabkan Covid-19 dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh: Hotnaida Siregar (Mahasiswi STEI SEBI DEPOK)

Seperti yang kita ketahui bahwa virus Corona atau yang sering disebut Covid-19 ini sangat berbahaya karena penularannya yang begitu cepat dan belum ada vaksin penawar dari virus ini. Sehingga membuat masyarakat Indonesia mengalami ketakutan yang berlebihan. Membuat sebagian masyarakat Indonesia menjadi egois dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Dengan membeli bahan makanan lebih dari biasanya. Sementara ada sebagian masyarakat Indonesia yang tidak memiliki rezeki untuk membeli bahan makanan.

Dan sekarang juga virus ini masih terus berkembang di Indonesia dan masih terus mengancam keselamatan masyarakat Indonesia. Berbagai macam hal telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19 ini. Mulai dari belajar dari rumah, Bekerja dari rumah (WFH), dan ibadah dirumah dan juga menerapkan pisyical distancing, serta lockdown dibeberapa daerah, dan kemarin Rabu 15 April 2020 penerapan PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) serta melakukan rapid test. Dengan tujuan mengurangi penularan Covid-19.

Namun beberapa usaha ini belum berhasil sepenuhnya dalam mencegah penularan Covid-19. Seperti informasi yang Kita ketahui per 15 April 2020 korban positif Covid-19 ini telah mencapai angka 5.136 dengan korban kematian berjumlah 469 orang dan jumlah pasien sembuh 446 orang. Tentu hal ini masih menjadi PR besar seluruh masyarakat Indonesia khususnya jajaran pemerintah. Dan menjadi ketakutan terbesar masyarakat Indonesia saat ini.

Namun perlu kita ketahui selain virus Corona atau Covid-19 ini Sangat mengancam dan beresiko bagi kesehatan badan karena belum ditemukannya vaksin penawar untuk virus Corona (Covid-19) ini. Penulis juga mengamati ada hal lain yang juga terancam terkena risiko karena adanya kasus Covid-19 ini.  Yaitu;

  1. Berisiko bagi kesehatan badan. Ini jelas ya. Karena yang terdeteksi positif terkena Covid-19 ini sudah lebih dari 5000 orang. Sehingga dengan diketahuinya berita ini menyebabkan banyak orang yang sakit tapi tidak mau kerumah sakit untuk memeriksa kesehatannya. Hanya Karena takut divonis terkena Covid-19. Kasus seperti ini saya temukan di daerah saya (Padang lawas Sumatra Utara) melalui teman saya yg bekerja di sebuah rumah sakit di daerah saya. Pasien dalam (rawat inap mereka biasanya mencapai angka 60  namun sekarang setelah adanya kasus Covid-19 ini berkurang drastis menjadi 1-2 orang. Dari penuturan teman saya hal ini disebabkan ketakutan yang berlebihan terhadap Covid-19 ini. Sehingga yang biasanya dia sakit langsung kerumah sakit untuk periksa kesehatan, Namun sekarang tidak berani kerumah sakit. Karena takut di vonis Covid-19. Tentu hal ini sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat.
  2. Mengancam atau berisiko bagi psikologi seseorang.

Maksudnya, dengan adanya kasus Covid-19 ini, membuat orang-orang ketakutan berlebihan. Sehingga ketika ada seseorang yang sakit, orang-orang yang ada disekitarnya mengucilkan dia dan menjauhi nya. Padahal sakitnya belum diketahui apakah itu gejala Covid-19 atau bukan. Karena kurangnya edukasi tentang Covid-19 ini di lingkungan masyarakat tersebut. Hal ini jugalah yang terjadi di lingkungan pribadi saya di sebuah kampung di Sumatera Utara. Awal ceritany seperti ini. Saya adalah mahasiswi Depok. Dan sekitar 3 Minggu yang lalu saya pulang kampung. Ketika saya masih didepok saya tidak terlalu takut berlebihan tapi tetap waspada. Namun setelah saya sampai di kampung halaman (mungkin karena masyarakat dikampung kurang pengetahuan dan edukasi tentang Covid-19 ini) tetangga dan masyarakat disekitar saya sangat menjauhi dan bahkan mengucilkan saya. Hal ini juga dirasakan oleh teman-teman saya yang juga baru pulang kampung dari perantauan.

Dan hal ini jujur menyebabkan mental saya down, dan saya mulai takut berlebihan  tentu hal ini jadi sebuah pelajaran bagi saya. Yang menurut saya perlu di share ceritanya ke orang-orang agar tidak merasakan apa yang saya rasakan ataupun orang-orang jangan melakukan hal yang terjadi ke saya ke orang lain.

Karena risiko yang terjadi sangat besar. Ketika mental seseorang orang down bukan hanya kesehatan nya yang terancam bahaya. Tetapi juga kesehatan jiwanya. Maka dari kejadian ini sangat penting mengambil pelajaran bahwa mengucilkan seseorang yang baru pulang kampung dari perantauan atau terkena sakit tapi belum tentu sakit Corona jangan langsung dikucilkan dan dijauhi. Namun sebaliknya kita sebagai manusia yang mempunyai rasa solidaritas harus saling mendukung tetapi tetap sosial distancing atau pyisical distancing serta menjaga kesehatan.

Semoga artikel yang singkat ini dapat memberikan kita pelajaran dan manfaat. Wallahu a’lam.

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Inisiatif Masyarakat Kurangi Dampak Ekonomi Saat Covid-19

Oleh; Hotnaida Siregar (Mahasiswi STEI SEBI Depok) Covid-19 masih terus menjadi sebuah ketakutan masyarakat. Sebagaimana …

Manajemen Risiko Melalui Asuransi

Oleh: Silpi Asdianti (Mahasiswa STEI SEBI) Risiko merupakan suatu akibat atau penyimpangan realisasi dan rencana …

Translate »