Masjid Nurul Huda Meulaboh, Saksi Bisu Tragedi Tsunami Aceh

SM| Aceh Barat–Berdiri pada abad 18 atau 1800 Masehi, Masjid Nurul Huda, yang berada di Desa Kampung Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan atau tepatnya di Pesimpangan bundaran taman Hijriyah Meulaboh menjadi saksi bisu gempa dan tsunami Aceh, Minggu, 26 Desember 2004 silam.

Di masjid ini pula ratusan warga Meulaboh menyelamatkan diri saat air bah warna hitam pekat menggulung provinsi Aceh dengan garang. Mayat-mayat bergelimpangan di setiap sudut Kota Meulaboh ketika ie bena (kata orang Aceh) menggulung provinsi paling ujung barat, Pulau Sumatera itu.

Berdiri di atas lahan sekitar 1500 meter bujur sangkar, dengan luas bangunan sekitar 250 meter bujur sangkar, masjid yang pintu masuknya menghadap ke Timur menyerupai Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh.

Gerbang masjid terlihat sederhana. Gapuranya terbuat dari baja berukuran 60 cm x 2,5 Meter bertuliskan Masjid Nurul Huda. Pagarnya juga terlihat sederhana tanpa kemegahan. Kubahnya berwarna hijau. Masjid ini pernah menjadi masjid kebanggaan dan masjid raya Meulaboh, sebelum berdirinya Masjid Agung Meulaboh.

Rizwan, (39) salah seorang saksi yang selamat dari peritiwa gampa dan tsunami. Warga Desa Kampung Belakang ini saat itu menyelamatkan diri bersama keluarganya di Masjid Nuruh Huda.

Menurut cerita wartawan senior salah satu harian cetak di Aceh ini saat menyelamatkan diri ke Masjid Nurul Huda, ia naik ke atas masjid menggunakan tangga sisi barat atau tepat ditempat wudhuk masjid tersebut.

“Saat tsunami saya bersama keluarga selamatkan diri di masjid itu. Waktu tsunami dinding kanan masjid hancur diterjang ombak,” kata dia.

Saat gelombang pertama surut, kata dia, warga yang selamat bahkan sempat mengumpulkan jenazah korban di lantai masjid. Ada ratusan jenazah kala itu berhasil dievakuasi dalam masjid. Namun tidak lama berselang gelombang kedua kembali muncul kedaratan dan mayat-mayat yang sebelumnya telah dikumpulkan di Masjid Nurul Huda kembali di bawa tsunami.

Ditambahkannya, saat tsunami ibunya sempat terbawa arus air bah itu, dan bertahan dengan tangan memegang salah satu kayu. “Begitu air surut ibu saya berhasil menyelamatkan diri ke Masjid Nurul huda bersama kami,” ujarnya.

Sementara itu pengurus Masjid Nurul Huda, mengatakan saat tsunami mimbar masjid pernah bergeser ke sudut selatan masjid, namun masih didalam. “Banyak yang menjadikan Masjid Nurul Huda sebagai tempat bernazar. Seperti kalau sakit dimandikan masjid ini,” katanya.

Dari kilas balik sejarah Masjid Nurul Huda, Meulaboh yang ditulis Teuku Ahmad Dadek. Masjid yang berdiri pada abad 18 itu, awalnya dibangun dengan kontruksi kayu oleh ulee balang Kaway XVI, bersama masyarakat dan kaum pedagang di seputaran Kampung Belakang sebelumnya disebut Kampung Masjid.

Masjid Nurul Huda, Meulaboh dibangun seiring dengan pertumbuhan Kota Meulaboh waktu itu yang sedang membangun administrasi, ekonomi dan keagamaan.

Masjid yang berkontruksi kayu ini dibangun pada masa Ulee Balang Meulaboh, Teuku Tjik Ali, yang menyediakan pertapakan tanah dan masyarakat sekitar membangunnya menjadi Masjid sebagai pusat Keulubalangan Ujong Kalak, dengan pasar gambe sebagai pusat perdagangannya.

Pada tahun 1900 masjid tersebut mulai dilakukan perombakan dari sebelumnya berkotrusi kayu menjadi semi permanen, dan tonggak atau tiang kayu masjid sebelumnya dihibahkan untuk pembangunan Masjid Ujong Kalak. Masjid tersebut juga dipasangkan terali pada terasnya. Untuk tempat wudhuknya masjid tersebut dibangun dengan sebidang kolam.

Pada tahun 1983 masjid ini kembali mengalami perombakan dengan cara memperluasan. Perluasan masjid dilakukan Teuku Tjik Ali Akbar merupakan mertua Teuku Umar. [nk]

Sumber: www.ajnn.net

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Gubernur DKI Tiadakan Shalat Jumat di Masjid Dua Pekan ke Depan

SM| Jakarta–Gubernur DKI Anies Baswedan memutuskan meniadakan kegiatan ibadah secara berjamaah yang dilakukan tempat-tempat ibadah …

surat dmi soal corona

DMI Keluarkan Edaran Terkait Shalat Jumat di Masjid

SM| Jakarta–Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengeluarkan surat edaran tentang pelaksanaan shalat Jumat terkait …

Translate »