KH Ahmad Marzuki al-Betawi, Guru Batavia Pencetak Ulama

Guru Marzuki, itulah sebutan ulama asal Betawi ini. Guru Marzuki memiliki nama lengkap Ahmad Marzuki bin Syekh Ahmad al-Mirshad bin Khatib Sa’ad bin Abdul Rahman al-Batawi.

Guru Marzuki lahir dan besar di Betawi yang dulu dikenal Batavia. Ayahnya, Syekh Ahmad al-Mirshad, keturunan keempat dari kesultanan Melayu Patani di Thailand Selatan yang berhijrah ke Batavia. Tepatnya pada Ramadhan tahun 1293 H/1876 M di Meester Cornelis, Batavia, Guru Marzuki dilahirkan.

Diusianya yang masih belia, umur 9 tahun, Guru Marzuki harus rela ditinggal sang ayah. Untuk memberikan pembekalan pendidikan agama, sang ibu harus mengirimkan Guru Marzuki kepada salah seorang guru ahli fikih, Haji Anwar.

Dalam gemblengan sang guru, Guru Marzuki banyak belajar khazanah keislaman. Ia pun kemudian mendalami al-Qur’an dan ilmu dasar bahasa Arab. Bahkan ia juga belajar kitab-kitab kuning di bawah bimbingan ulama Betawi bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan.

Ketika usia Guru Marzuki berumur 16 tahun, sang guru melihat ketekunan dan kecerdasan Marzuki muda, ia pun merekomendasikannya untuk berangkat ke Mekah, selain belajar menuntut ilmu juga menunaikan ibadah haji. Guru Marzuki pun akhirnya bermukim di Mekah selama 7 tahun.

Kecerdasan dan ketekunan Guru Marzuki berlanjut ketika berada di kota suci ini. Selama 7 tahun, hari-harinya ia pergunakan dengan baik untuk beribadah dan menimba ilmu dari para ulama terkemuka di Haramain.

Beberapa ulama Haramain yang sempat membimbing Guru Marzuki, antara lain: Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Radhwan al-Madani, Syekh Umar Bajunaid al-Hadhrami, Syekh Abdul karim al-Daghistani, Syekh Mukhtar bin Atharid al-Bogori, Syekh Ahmad al-Khatib al-Minangkabawi, Syekh Umar al-Sumbawi, Syekh Mahfuzh al-Termasi, Syekh Sa’id al-Yamani, Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi, Syekh Muhammad Ali al-Maliki dan lain-lain.

Berragam ilmu yang ia pelajari dari berbagai guru yang berbeda pula. Mulai dari ilmu nahwu, shorof, balaghah, fikih, ushul fikih, hadis, mustholah hadis, tafsir, mantiq, fara’idh, hingga ilmu falak (astronomi).

Di bidang tasawuf, Guru Marzuki juga memperoleh ijazah untuk menyebarkan tarekat al-‘Alawiyah dari Syekh Umar Syatta al-Bakri al-Dimyathi yang memperoleh silsilah sanad tarekatnya dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan, seorang mufti Syafi’iyyah di Mekah.

Dari sekian ilmu yang ia dalami, akhirnya yang paling menonjol kemampuannya dibidang ilmu hadis. Bahkan ia disebut sebagai pakar hadis di Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran hadis-hadis nabi di Indonesia dan menjaga transmisi periwayatan sanadnya.

Setelah 7 tahun belajar di Mekah, Guru Marzuki kembali ke tanah air atas permintaan Sayid Usman Banahsan, lalu Guru Marzuki mengabdi untuk pengembangan jamaah di masjid Rawabangke selama 5 tahun, sebelum pindah dan menetap di Cipinang Muara. Hingga akhirnya ia mendirikan lembaga pendidikan Islam.

Ada yang unik cara mengajar Guru Marzuki kepada murid-muridnya. Guru Marzuki mengajar sambil berjalan di kebun dan berburu tupai. Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula para murid mengikutinya dalam formasi berkelompok. Dalam setiap kelompok terdiri dari lima orang dengan belajar kitab yang sama, satu orang bertindak sebagai juru baca. Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok lain yang belajar kitab lain lagi menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Di antara murid Guru Marzuki yang kelak menjadi ulama terpandang di kalangan masyarakat Betawi dan sebagian mereka membangun lembaga pendidikan yang tetap eksis sampai sekarang, seperti KH Abdullah Syafi’i (pendiri Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Jatiwaringin), KH Noer Alie (pendiri Pesantren Attaqwa, Bekasi), KH Mukhtar Thabrani (pendiri Pesantren An-Nur, Bekasi), KH Abdul malik (putra Guru Marzuki), KH Zayadi (pendiri Perguruan Islam Az-Ziyadah, Klender), KH Ali Syibromalisi (pendiri Perguruan Islam Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta), KH Abdul Jalil (tokoh ulama dari Tambun, Bekasi), KH Aspas (tokoh ulama dari Malaka, Cilincing), KH Mursyidi dan KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Islam al-Falah, Klender), dan ulama-ulama lainnya.

Sementara itu, para putra Guru Marzuki juga menjadi tokoh di masyarakat, selain KH. Abdul Malik (Guru Malik), ada juga KH Moh. Baqir (Rawabangke), KH Abdul Mu’thi (Buaran, Bekasi), dan KH Abdul Ghofur (Jatibening, Bekasi).

Dalam kiprahnya, Guru Marzuki termasuk eksponen dalam jaringan ulama Betawi yang cukup menonjol di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bersama lima tokoh ulama Betawi lainnya, yaitu KH Moh. Mansur (Guru mansur) dari Jembatan Lima , KH Abdul majid (Guru Majid) dari Pekojan, KH Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gondangdia, KH Mahmud Romli (Guru mahmud) dari Menteng dan KH Abdul Mughni (Guru Mughni) dari Kuningan Jakarta Selatan.

Bersama kelima ulama terkemuka Betawi ini, mereka berhasil melebarkan pengaruh keulamaan dan intelektualitas hingga menjangkau hampir seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Guru Marzuki wafat pada hari Jumat, 25 Rajab 1353 H. Di masa hidupnya, Guru Marzuki dikenal sebagai ulama yang dermawan, tawadhu’, dan menghormati para ulama dan habaib. Ia juga dikenal sebagai seorang sufi, da’i dan pendidik yang sangat mencintai ilmu dan peduli pada pemberdayaan masyarakat lemah. Kesehariannya tak lepas dari mengajar, berdakwah, mengkaji kitab-kitab dan berzikir kepada Allah swt. [FR-bbs]

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Dubes RI Resmikan Muslim Tatar Cultural Center di Rusia

SUARAMASJID.com| Moskow–Satu lagi masjid hadir di kota Moskow setelah diresmikan oleh pimpinan dewan masjid setempat …

Kemenag Resmikan Masjid Muslim Indonesia di Amsterdam

SUARAMASJID.com|Amsterdam–Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Masjid Muslim Indonesia …

Translate »