Ahmad Hasan, Ulama yang Produktif Menulis untuk Dakwah

Semasa hidupnya Ahmad Hasan dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Bahkan ia memiliki percetakan sendiri untuk menyuarakan gagasannya dalam bentuk sebuah media. Bagaimana perjalanannya?

Ahmad Hasan atau biasa dipanggil dengan sebutan Hasan Bandung. Ia adalah ulama Persatuan Islam (Persis) yang banyak memberikan pemikiran dan padangan tentang pembaruan Islam abad 20. Ia lahir di Singapura tahun 1988 dari seorang ayah bernama Sinna Vappu Maricar seorang penulis agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ibunya bernama Muznah berasal dari Palekat Madras, tetapi lahir di Surabaya.

Pada usia 7 – 12 tahun, Hasan sekolah dan mengaji sambil mencari nafkah sendiri. Guru pertama kali yang mengajarkannya bahasa Arab adalah Muhammad Thaib. Setelah gurunya berangkat haji, ia belajar pada Said Al Musawi dan pamannya Abdul Latif seorang ulama di Malaka dan Singapura.

Hasan juga belajar kepada Syekh Hasan, ulama asal Malabar dan Syekh Ibrahim ulama asal India sampai tahun 1910. Pada usia 23 tahun ia menjadi guru tidak tetap di madrasah orang-orang India di Arab Street, Bagdad Street dan Geylang hingga tahun 1915. tahun-tahun berikutnya ia diangkat menjadi guru tetap pada madrasah Assegaf di jalan Sulthan.

Selain menjadi guru, A Hasan juga menyalurkan kemampuan menulisnya dengan menjadi anggota redaksi surat kabar Utusan Melayu yang diterbitkan Singapura Press pimpinan Inche Hamid dan Sa’adullah Khan tahun 1913.

Pikiran-pikiran Hasan Bandung yang sangat tajam dan kritis terutama dalam cara memahami nash al-Qur’an dan hadis yang cenderung literalis memiliki pengaruh ke banyak kalangan. Hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdlah, ia sama sekali menolak hal-hal yang berbau bid’ah.

Hasan juga menentang taqlid yaitu mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalilnya. Tapi Hasan juga memperkenankan ittiba’, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya.

Ia berpendapat bahwa hanya al-Qur’an dan hadis saja yang bisa dijadikan sumber hukum Islam. Sedangkan hukum buatan manusia, walaupun disepakati oleh semua orang, tidak dapat dijadikan salah satu sumber hukum.

Ulama yang Produktif Menulis

Hampir 20 tahun Hasan menetap di Bandung dan menyebarkan gagasan-gagasannya baik melalui ceramah maupun tulisan. Selain produktif menulis, ia juga aktif memberi kursus kepada pelajar-pelajar, bertabligh setiap minggu, menyusun berbagai karangan pada berbagai majalah.

Diantara karya Hasan yang dijadikan rujukan pemikirannya tentang agama adalah Tafsir Al-Furqan, Kitab Pengajaran Shalat (buku rujukan bagi jamaah PERSIS dalam tata cara shalat), Terjemah kitab Bulughul Maram disertai catatan dari Hasan, dan Kitab Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama.

Tahun 1914, Hasan pindah ke Bangil dengan membawa percetakannya sebagai bekal hidup dan mempublikasikan tulisannya. Di sanalah Hasan mendirikan Pesantren Persis di samping pesantren putri yang sampai kini dihuni oleh para santri dari berbagai tanah air.

Dalam pidatonya, Hasan pernah mengecam kemunduran umat Islam hingga oleh pemerintah dicap berpolitik akibatnya ia tidak diperbolehkan berpidato di muka umum. Merasa dakwahnya dipersempit oleh pemerintah, Hasan hijrah ke Surabaya tahun 1921 untuk terus berdakwah dan mengembangkan toko tekstil milik keluarganya.

Dalam hidup, Hasan dikenal sebagai ulama yang mempunyai prinsip berdiri tegak di atas kaki sendiri. Prinsip ini memang sudah lama ditanamkan oleh orangtuanya sejak kecil. Sambil berwiraswasta, ia menjalin persahabatan dengan beberapa tokoh Syarikat Islam seperti HOS Cokroaminoto, AM Sangaji, H Agus Salim dan beberapa tokoh Islam lain.

Sambutan hangat pun diraihnya karena memang mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesamaan visi perjuangan dan dakwah Islam. Hasan sangat memuliakan tamu dan pintunya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang akan mengunjunginya dengan sambutan yang hangat dan akrab.

Namun akhirnya ulama yang selalu tawadhu beragama, kritis dengan semboyan hidupnya “Tidak ada penghidupan yang lebih baik dari hidup mengikuti tuntunan agama dan berbuat baik kepada siapapun sekadar bisa dan penuh keikhlasan” ini harus berpulang ke rahmatullah pada tanggal 10 November 1958 dalam usia 71 tahun.

Hasan termasuk tokoh pionir Persis yang gigih memperjuangkan Islam untuk menyerukan agar umat Islam kembali kepada ajaran al-Qur’an dan hadis. Bagi Hassan, al-Qur’an dan hadis merupakan pijakan cara beragama Islam yang kaffah dan sempurna. Dua sumber hukum tersebut menyimpan konsep aturan agama yang terkait dengan muamalah dan jinayah. Jika menggali kembali kandungan al-Qur’an dan hadis secara benar, maka umat Islam akan menemukan kekuatannya kembali untuk mengatur kehidupan. [FR]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Dubes RI Resmikan Muslim Tatar Cultural Center di Rusia

SUARAMASJID.com| Moskow–Satu lagi masjid hadir di kota Moskow setelah diresmikan oleh pimpinan dewan masjid setempat …

Kemenag Resmikan Masjid Muslim Indonesia di Amsterdam

SUARAMASJID.com|Amsterdam–Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Masjid Muslim Indonesia …

Translate »