Masjid Nurul Huda, Saksi Sejarah Islam di Bali

SM | Pulau Dewata yang penduduk mayoritasnya beragama Hindu ternyata menyimpan khazanah Islam. Adalah sebuah masjid bernama Nurul Huda, merupakan masjid tertua yang ada di pulau Bali ini. Masjid ini terletak di desa Gelgel, Klungkung, Bali.

Masjid tertua di Bali ini terletak sekitar 3 km sebelah Selatan kota Klungkung, sedangkan jarak dari Denpasar sekitar 30 km. Masjid Nurul Huda di Gelgel ini berada di tengah-tengah perkampungan penduduk Hindu Bali. Dan di sekitarnya terdapat banyak pura-pura besar warga Hindu. Namun demikian kehidupan penduduknya saling menghormati dan toleransi terjaga. 

Merujuk perkembangan agama Islam di Bali, peninggalan bersejarah masjid tertua di Bali ini diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-13. Berawal dari perjalanan dari Raja Gelgel yaitu Dalem Ketut Ngulesir yang menuju ke Majapahit yang berpusat di Mojekerto untuk mengikuti pertemuan raja-raja se-Nusantara.

Kerajaan Majapahit pada waktu itu dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Dalam perjalanan pulang menuju Bali raja Dalem Ketut Ngulesir diiringi dan dikawal oleh pasukan kerajaan Majapahit sebanyak 40 orang prajurit.

Sebagian dari jumlah prajurit pengawal tersebut beragama Islam, salah satu pengawal tersebut adalah Raden Modin dan Kyai Abdul Jalil yang pada akhirnya menetap di Bali. Mereka menetap, menyebarkan agama Islam dan akhirnya mendirikan sebuah masjid atas seijin raja Gelgel.

Bentuk mimbar di masjid ini memiliki banyak kemiripan dengan mimbar mimbar kuno yang ada di masjid masjid kuno di pulau Jawa seperti mimbar di Masjid Sendang Dhuwue dan masjid Mantingan. Di mimbar ini juga terdapat inskripsi yang menjelaskan renovasi masjid ini di tahun 1280 Hijriah bertepatan dengan tahun 1863 Miladiyah.

Dari inskripsi tersebut dapat diketahui perbaikan masjid ini diakukan pada tanggal 7 Juli 1280H / 1863M. meskipun tidak diketahui secara pasti kapan masjid ini pertama kali dibangun namun dipastikan bahwa masjid ini telah berdiri disana jauh sebelum tahun 1863M.

Sejak berdiri Masjid Nurul Huda dari zaman Kerajaan Gelgel telah mengalami beberapa tahapan renovasi dan rehab, sampai akhirnya pada tahun 1989 M bertepatan dengan tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda dibangun ulang dengan konstruksi beton berlantai dua, dan bagian atapnya masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Dan renovasi terakhir dilakukan pada Tahun 2010 M /Tahun 1431 H.

Masjid yang berdiri di pinggir jalan raya utama desa Gelgel ini memiliki menara menjulang tinggi sekitar 17 meter. Mulai saat itu lahir perkampungan-perkampungan muslim di Bali diantaranya Kepaon dan Serangan di Denpasar, Pegayaman di Buleleng, Loloan di Jembrana dan Budakeling di Karangasem.

Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja Gelgel pertama yang membangun istana Gelgel pertama kali, Dalem Ketut mempersunting anak dari Arya Kebon Tuboh dan menurunkan putra bernama dalem Waturenggong, yang mana pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, kerajaan Gelgel mengalami masa keemasan.

Kondisi kampung Gelgel tidak ada bedanya dengan kampung-kampung muslim lainnya di Nusantara, namun nuansanya yang sedikit berbeda, disekitarnya dikelilingi pura dan warga yang mayoritas beragama Hindu. Nama warga muslim yang dulunya berisi embel-embel nama khas Bali seperti Wayan, Nengah, Nyoman dan Ketut, seiring perjalanan waktu nama khas Bali tersebut ditinggalkan dan diganti dengan nama Islami dan modern.

Warga Muslim desa Gelgel tinggal berbaur dengan warga mayoritas dan terkadang menikah dengan warga Hindu setempat, tempat tinggal mereka menyebar di sekitaran Klungkung, seperti kampung Lebah, Kusamba sampai ke desa Toya Pakeh di pulau Nusa Penida.

Bahasa komunikasi mereka sehari-hari tetap menggunakan bahasa daerah Bali.  Masjid Nurul Huda sudah berkali-kali mengalami pemugaran, namun bentuk khasnya masih terlihat, seperti sebuah menara 17 meter. Kampung Gelgel dan keberadaan masjid tertua di Bali merupakan jejak-jejak sejarah penyebaran agama Islam di pulau Bali. [nnk]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

NH Bojonegoro Salurkan 100 Ton Beras untuk Mustahik

SM | Bojonegoro- Diproduksi dari petani desa sejahtera binaan Laznas Nurul Hayat, 100 ton beras …

1.390 Jemaah Ajukan Pengembalian Setoran Pelunasan Haji

SM | Jakarta– Jemaah yang mengajukan pengembalian setoran pelunasan terus bertambah. Data sampai 22 Juli …

Translate »