masjid katangka

Masjid Katangka Saksi Sejarah Islam Pertama di Sulawesi Selatan

SM | Gowa–Masjid Al Hilal atau lebih dikenal dengan nama Masjid Katangka merupakan masjid tertua di Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid ini dibangun pemerintahan Raja Gowa XIV I Manga’rangi Daeng Manrabbia (Sultan Alauddin I) pada tahun 1603.

Masjid yang terletak di Jalan Syekh Yusuf Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini dibangun menyerupai arsitektur Masjid Demak. Masjid memiliki ukuran 14,1 x 14.4 meter dengan tinggi bangunan 11,9 meter. Tebal dinding masjid mencapai 120 cm, terbuat dari batu kali.

Bangunan masjid ditopang oleh empat tiang utama, menyimbolkan empat sahabat utama Rasul yaitu Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Pada pintu bagian mihrab serta mimbar terdapat tulisan Arab yang terbuat dari ukiran kayu. Sementara, lantai dasar masjid memiliki mimbar ceramah dengan model semi-panggung. Selain itu, di bagian depan mimbar terdapat dua bendera yang diikat di dua tombak.

Atap masjid dua lantai ini terbuat dari genteng tanah liat. Terdapat pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di keempat sisinya, agar sinar matahari dapat masuk dalam masjid.

Masjid ini pun mempunyai serambi yang menyatu dengan atap utama, berfungsi sebagai ruang peralihan dan juga digunakan sebagai tempat belajar mengaji.

Menurut Harun Daeng Ngella, penjaga Masjid Tua Katangka, di masjid inilah ajaran agama Islam pertama kali disebarkan di Sulawesi Selatan.

Lokasi berdirinya Masjid Katangka dahulu merupakan tempat salat rombongan ulama dari Yaman yang mengembara ke Sulawesi untuk menemui Raja Gowa dan mensyiarkan Islam. Mereka singgah melaksanakan shalat Jumat di tempat yang kini menjadi masjid.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Gowa. Namun, sempat ditolak sang raja. Para ulama Yaman ini tak menyerah. Mereka menemui ulama penyebar Islam asal Minangkabau di pesisir. Ulama asal Minangkabau itu kemudian diutus untuk meng-Islamkan raja-raja di Sulsel.

Akhirnya, Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabbia bersedia menerima Islam dan menjadikannya sebagai agama kerajaan. Namanya berganti menjadi Sultan Alauddin. Kemudian, dibangunlah masjid di tempat para ulama Yaman melaksanakan shalat Jumat.

Masjid Tua Al-Hilal terdaftar sebagai benda cagar budaya pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dengan nomor urut inventaris 98. dan sudah ditetapkan sebagai  benda cagar budaya nasional melalui surat keputusan Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Juwono Sudarsono.

Masjid ini mengalami enam kali renovasi. Beberapa pemugaran yang tercatat yaitu pada tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa Sultan Kadir, tahun 1826 oleh Raja Gowa Sultan Abdul Rauf, tahun 1893 oleh Raja Gowa Sultan Muhammad Idris.

Tahun 1948 oleh Raja Gowa Sultan Muhammad Abdul Aidid dan Qadhi Gowa H Mansyur Daeng Limpo, tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Andi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa, serta pemerintah pada tahun 1973, 1978, 1980, hingga tahun 2007 dengan dana pemerintah dan hasil swadaya masyarakat Kabupaten Gowa. [nk]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

NH Bojonegoro Salurkan 100 Ton Beras untuk Mustahik

SM | Bojonegoro- Diproduksi dari petani desa sejahtera binaan Laznas Nurul Hayat, 100 ton beras …

1.390 Jemaah Ajukan Pengembalian Setoran Pelunasan Haji

SM | Jakarta– Jemaah yang mengajukan pengembalian setoran pelunasan terus bertambah. Data sampai 22 Juli …

Translate »