Masjid Karim Oei, Rumah Damai Muslim Tiongkok di Jakarta

Masjid Karim Oei menjadi jembatan emas bagi warga Tiongkok yang hendak memeluk Islam. Hal itu sejalan dengan semangat perjuangan Haji Karim Oei ketika masih hidup.

JAKARTA-SM. Masjid Karim Oei atau biasa disebut Masjid Lautze adalah masjid yang menjadi pusat kegiatan Muslim keturunan Cina untuk mendalami ajaran Islam. Masjid ini didirikan pada tahun 1991 untuk mengenal tokoh nasional keturunan Cina Haji Karim Oei Tjeng Hien (1905-1988).

Sosok Haji Karim Oei adalah tokoh keturunan Cina yang pada masa hidupnya gigih membangun bangsa melalui pengabdiannya. Semasa hidupnya, ia aktif di beberapa organisasi Islam seperti Muhammadiyah, anggota Dewan Penyantun BAKOM PKAB, anggota Pengurus MUI Pusat, mantan anggota Parlemen RI dan juga pendiri organisasi warga etnis Tionghoa Islam, dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Selain aktif dalam organisasi Islam, Haji Karim Oei juga sukses di dunia bisnis, di antaranya pernah menjabat sebagai Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bengawan Mas. Kedekatannya dengan sejumlah kalangan membuat Haji Karim Oei dikenal banyak orang.

lautze1Masjid yang berada di jalan Lautze, Pasar Baru ini didirikan untuk melestarikan semangat persatuan dan kesatuan antara umat Islam Indonesia dengan warga keturunan Tiongkok. Masjid ini selalu ramai dikunjungi jamaah dari berbagai kalangan. Umumnya jamaah yang datang adalah warga keturunan Tiongkok yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Berbagai kegiatan mewarnai hiruk pikuk jamaah yang datang mulai dari pengajian rutin, pengajian bulanan hingga kegiatan harian seperti shalat jamaah, shalat Jum’at dan bimbingan keislaman.

Hari Ahad, Masjid ini menjadi tempat berkumpulnya mualaf dari berbagai daerah. Mereka adalah para mualaf yang pernah berikrar di bawah bimbingan pengurus masjid, atau mualaf lain yang menjalin hubungan dengan mualaf setempat untuk bertukar pengetahuan.

Masjid Gaya Kelenteng

Jika diamati dari luar dan dalam, bentuk bangunan Masjid karim Oei sangat menarik dan unik. Letak masjid ini berada dideretan pertokoan jalan Lautze nomor 87-89, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Siapapun yang lewat didepan pertokoan pecinan ini tidak akan mengira bahwa bangunan kontras berwarna merah itu merupakan tempat peribadatan umat Islam.

Warna merah yang menyala pada pintu luar, menyerupai bangunan klenteng yang pada umumnya digunakan untuk memberi warna tempat peribadatan umat Budha. Mesjid ini mungkin satu-satunya mesjid di Indonesia yang tak berbeduk dan tak bermenara. Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah.

Mesjid ini masih bernuansa seperti masjid-masjid di Beijing, China. Di sana bangunan masjid sama seperti dengan bangunan klenteng. Arsitektur dalam masjid juga tidak terlepas dengan corak Chinesse, yakni perpaduan antara warna kuning dengan ukiran berwarna merah. Beberapa kaligrafi yang menghiasai sudut-sudut masjid juga memiliki sentuhan kaligrafi Cina.

Masjid Karim Oei memiliki luas bangunan 8 x 14 meter dengan 4 lantai. Lantai pertama dan kedua digunakan sebagai ruang shalat, lantai ketiga sebagai kantor pengurus dan lantai keempat sebagai ruang pertemuan dan perpustakaan. Biasanya jamaah pengajian hari Minggu berkumpul di lantai 4 untuk menyantap hidangan yang disediakan jamaah secara bergiliran. Selain tempat ibadah dan silaturahmi, pengurus masjid juga mengadakan kegiatan kursus bahasa Mandarin, pendalaman ilmu keislaman, dan sharing bisnis.

Jamah Masjid Kariem Oei tidak hanya datang dari Jakarta saja namun juga dari luar Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Depok, Bogor, Bekasi, Tanggerang hingga jamaah dari luar Jawa.

Keberadaan Masjid Karim Oei di pusat kota memiliki peranan besar dalam pengembangan jumlah populasi Cina Muslim di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 80.000 jiwa. Masjid Karim Oei telah mengislamkan ribuan jamaah.

Keturunan Cina yang sebelumnya memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu seolah memperoleh jembatan baru menuju cahaya Islam dan jalan kedamaian. Kini komunitas Cina Muslim di Indonesia dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak. [FR]

 

 

 

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Bekasi akan Punya Masjid Modern Ramah Disabilitas

SUARA MASJID | Bekasi–Menjelang ramadhan, pengembangan properti Damai Putra Group melakukan Groundbreaking peresmian dimulainya pembangunan …

Inilah Lima Masjid Tertua di Indonesia

SUARA MASJID | Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki khazanah keislaman yang tersebar di …

Translate »