Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan Si Kubah Hijau di Tanah Gersang

Gaya arsiteknya berkiblat pada masjid-masjid di Timur Tengah. Masjid dengan kubah warna hijau dan dinding warna putih ini nampak anggun. Dialah Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan yang terletak di timur pulau Madura.

 

M3391M-1011

 Tayaqqadû… Tayaqqadû.. yâ..  niyâm….” Bangunlah wahai orang-orang yang terlelap. Itulah kalimat pembuka yang terdengar dari loudspeaker setiap membuka waktu pagi mengantarkan jamaah shalat Shubuh berjamaah. Berjibunnya jamaah yang selalu ramai turut menghidupkan aktivitas ibadah di setiap ada panggilan shalat lima waktu.

Masjid megah ini dibangun atas inisiatif dan mimpi almarhualamien1 m KH Mohammad Tidjani Djauhari MA pada akhir 1988 sepulang dari Makkah, yang menginginkan berdirinya masjid agung nan multifungsi di tengah-tengah lembaga pendidikan Islam, pesantren.

Dengan segenap perjuangan tak kenal lelah, akhirnya pada tahun 1996, bertepatan dengan peringatan ulang tahun Al-Amien Prenduan ke-45, pembangunan masjid berlantai dua itu rampung, dengan total biaya mencapai Rp 1,3 Milyar. Peresmian masjid megah itupun berlangsung meriah, karena langsung diresmikan oleh Menteri Agama.

Layaknya masjid yang berdiri di tengah-tengah lembaga pendidikan, Masjid Al-Amien pun digunakan sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar bagi para santri. Kaalamien2renanya, di bagian belakang masjid tersebut dibangun sebuah perpustakaan yang digunakan sebagai pusat kegiatan ilmiyah dan diskusi.

Tak hanya santri, masjid luas ini juga digunakan untuk shalat berjamaah oleh masyarakat sekitar pesantren. Terutama hari Jum’at dan hari-hari besar Islam lainnya. Selain juga karena suasana masjid yang sejuk di tengah-tengah wilayah yang panas, membuat para jamaah lebih khusuk dalam menjalankan ibadah.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 48 x 40 meter ini memiliki konstruksi apik dengan memadukan motif Timur Tengah dan lokal. Dan secara garis besar menghantarkan gaya desain modern, yang tak pernah ada sebelumnya di wilayah Madura. Lebih-lebih di desa Prenduan, letak masjid berkubah hijau tersebut berdiri.

Pada bagian eksterior masjid, keindahan dimulai dari bagian atas. Bagian atap masjid mengadobsi budaya lokal, yang pada umumnya berbentuk congkop, digabung dengan kubah raksasa berwarna hiijau, membuat pemandangan masjid kian kemilau. Dan garis-garis lembut di bagian kubah, menanggalkan gaya desain polos kubah pada umumnya.

Tak kalah menarik, sebanyak 36 tiang-tiang yang mengelilingi seluruh bagian masjid, yang membuatnya tampak kokoh dan perkasa. Fungsi dari tiang-tiang tersebut, menopang bagian lantai dua yang menonjol ke luar.

Di kedua samping masjid bergaya arsitek Madinah ini dibangun tempat wudhu untuk para jama’ah. Uniknya, tempat wudhu tersebut bukan hanya terpisah, tetapi disesuaikan dengan pintu masuk. Sebelah kiri untuk jama’ah laki-laki pada bagian kanan khusus perempuan.

Dari sisi depan dan samping, tampak konstruksi miniatur kubah dua dimensi berwarna merah menyatu dengan tiang makin mempercantik bagian eksterior masjid. Miniatur itu sebenarnya fentilasi untuk keluar masuknya angin agar suasana di dalam masjid tidak pengab.

Sebelum pintu masuk bangunan mirip gerbang turut menyempurnakan suasana masjid-masjid di Madinah, membuat setiap jama’ah yang masuk serasa memasuki Masjid Nabawi.

Di sekeliling masjid, atau tepatnya di emperan masjid, terdapat pot bunga berbentuk segi enam. Setiap pot bunga terdapat tumbuh-tumbuhan hiasan untuk menambah sejuknya suasana masjid. Sementara itu, di pelataran depan masjid terdapat dua gazebo untuk kegiatan kajian-kajian atau diskusi para santri.

 

Interior Memukau

Masjid yang didesain oleh Slamet Fiddien ini ternyata tak hanya mempertahankan bentuk desain yang rapi, namun juga tersirat filosofis memukau di bagian interior.

Pada pintu utama, terdapat ukiran arab, yang berarti: Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. Dengan demikian, bagian pintu utama mengingatkan para jama’ah untuk selalu bertaqwa.

Pintu masuk masjid yang berjumlah lima buah, simbol dari rukun Islam yang harus diamalkan oleh umat Islam. Mengapa pada pintu? Karena para jama’ah selalu keluar masuk melalui pintu masjid, sehingga mudah mengingatkan mereka akan pentingnya rukun Islam. Selain itu, lima pintu masjid juga menjadi pengingat kewajiban shalat lima waktu.

Kubah pada bagian interior masjid, ditopang dengan enam tiang. Secara simbolis, tiang berjumlah enam, adalah lambang dari rukun iman yang harus dipertahankan sekokoh tiang itu menopang bagian kubah. Dan pada setiap tiang, dikelilingi ukiran rak untuk menyimpan al-Qur’an. Tujuannya, agar para jama’ah lebih mudah menjangkau al-Qur’an untuk dibaca setelah shalat.

Sedangkan di bagian mihrab masjid, dibangun tempat pengimaman yang di kedua sisinya terdapat dua pintu. Sebelah kanan digunakan untuk mu’adzin dan sebelah kiri digunakan untuk mimbar khatib. [fathur]

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Bupati Bone Resmikan Masjid Nur Zawa

SUARAMASJID| Bone–Bupati Bone, H Andi Fahsar M Padjalangi, meresmikan Masjid Nur Zahwa dan taman Paud …

Siapa Sangka, Ternyata Masjid Terbesar di Eropa Ada di Negara Komunis

SUARAMASJID| Moskow–Siapa sangka, ternyata letak masjid terbesar di Eropa ada di bagian Rusia. Negara yang …

Translate »