Masjid Agung Al-Baitul Qadim, Masjid Tertua di Timor

SUARA MASJID | Kupang – Banyak yang belum tahu bahwa ziarah agama Islam di Pulau Timor dimulai dari Kelurahan Airmata. Wilayah yang berada persis bibir Kali Kaca merupakan wilayah pemukimam Muslim pertama di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di Airmata ini pula berdiri masjid tertua dan pertama di Kupang, namanya Masjid Agung Airmata atau resminya bernama Masjid Agung Al-Baitul Qadim.

“Masjid Airmata menjadi simbol pemersatu umat beragama di Kupang dan sekitarnya, karena sejak pertama kali dibangun bergotong royong bersama masyarakat Nasrani setempat,” kata Sekretaris Umum Yayasan Agung Al-Baitul Qadim Airmata, Abdul Sukur Dapubeang kepada detikBali, di Masjid Agung Al-Baitul Qadim Airmata, Sabtu (30/4/2022),

Selain itu, kata Abdul Sukur Dapubeang, Masjid Airmata merupakan potret dasar masuknya Islam di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Masjid ini merupakan pemersatu warga Muslim dan non muslim. Tak mengherankan jika masjid tersebut dijadikan sebagai objek wisata rohani di Kota Kupang,” sambungnya

Masjid yang sudah berusia sekitar 200-an tahun itu dibangun di atas tanah hibah Syahban bin Sanga Kala pada tahun 1806 bersama dengan Kiai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang Belanda ke Kupang) dibantu umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang.

Menurut Abdul Syukur, biasa disapa–Syahban merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Dimulai dari Mananga jelas Abdul Syukur, Pulau Solor yang dilakukan oleh para pedagang yang juga ulama dari Palembang, Sumatera Selatan. Ulama tersebut bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga.

“Hampir enam tahun lamanya baru masjid itu selesai dibangun dalam periode 1806-1812. Pada 1984, imam masjid turunan ketujuh, Birando bin Tahir, mulai melakukan pemugaran masjid bersejarah itu guna melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor,” ungkapnya.

Menurut penuturan H Imam Birando bin Taher, Imam Masjid Agung Airmata ketujuh yang juga tokoh masyarakat Airmata, sejatinya Masjid Agung Airmata bukanlah masjid yang pertama kali berdiri di Kupang.

Dua Kali Ditolak Belanda

Sebelumnya sudah pernah dua kali didirikan masjid oleh Kiai Arsyad, dan dua kali juga ditolak oleh penjajah Belanda. Kiai Arsyad, yang banyak berperan dalam pengembangan Islam di Kupang, sebelum ditangkap dan diasingkan, memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).

Kiai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba (sekarang Fatubesi Red), kawasan pantai di belahan utara Kupang, dan mendirikan masjid. Namun baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan dijadikan kompleks perumahan pejabat.

“Kiai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke arah selatan kota, di Fontein sekarang dan kembali mendirikan masjid. Tapi Belanda kembali menggusur masjid dan komunitas Kiai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran. Kantor Bupati Kupang sekarang diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid Kiai Arsyad,” kisahnya.

Tergusur dari Fontein kata dia, Kiai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan jamaahnya ke arah selatan, Airmata sekarang dan tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari Nusantara. Masjid Agung yang didirikan di Airmata ini dibangun di atas tanah wakaf Syahban bin Sanga Kala dan diberi nama Baitul Al-Qadim (rumah pertama).

Syahban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya, yakni Birando, Abdullah dan Bofid. Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib dan Bofid sebagai muadzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga cucu-cucu Syahban.

Masjid itu dibangun dengan perpaduan arsitek antara unsur budaya Flores Timur dan Arab sebagai simbol perlawanan warga Airmata terhadap kolonial Belanda dan Jepang pada masa itu.

Arsitektur masjid merupakan perpaduan seni arsitektur Jawa dan Cina. Dengan ukuran 10 x 10 meter, berbentuk joglo, dengan atap genteng. Tahun 1984 dilakukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H Birando bin Taher.

Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jamaah setempat, dengan sejumlah alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga Muslim.

Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian dinding dan atap rapuh, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap tampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada. [fro]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Ketua DMI Jusuf Kalla Ajak Umat Islam Jaga Ukhuwah Melalui Masjid

SUARA MASJID | Jakarta– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DPP DMI) Muhammad …

DMI Hadiri Konferensi Ulama dan Cendekiawan Asia Tenggara dan Dunia

SUARA MASJID | Kuala Lumpur–Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Pol (Purn) DR. …

Translate »