Marbot Perempuan yang Dihormati Rasulullah

Ummu Mahjan, namanya tak sepopuler Khadijah binti Khuwailid. Dia juga bukan seorang perawi seperti Aisyah binti Abu Bakar yang masuk di dalam sepuluh besar deretan perawi.

Ia juga bukan seorang prajurit yang gagah berani seperti Ummu ’Umarah yang ikut berperang di medan pertempuran Perang Uhud yang ikut melindungi Rasulullah saat pasukan muslimin kocar-kacir.

Meski tidak memiliki nama populer, Rasulullah telah memberikan perhatian khusus kepadanya. Bahkan ketika meninggal dunia, Rasul langsung melakukan shalat di atas pemakaman Mahjan. Mengapa demikian?

Ummu Mahjan seorang sahabat wanita tua dan berkulit hitam. Dia termasuk penduduk Madinah. Ia sosok wanita miskin yang memiliki fitrah yang lemah. Namun ia tidak bimbang dan ragu dan tidak mau ketinggalan untuk turut berkiprah dalam syiar Islam.

Keimanan telah menunjukinya untuk menunaikan perannya. Ia sosok yang selalu membersihkan kotoran dan menyiapkan shalat dua hari raya di masjid. Ia menyapu masjid dan menjaga kebersihan rumah Allah.

Bagi Mahjan, masjid mempunyai peran penting dalam Islam, yaitu menghasilkan para tentara dan ulama. Rumah Allah itu adalah majelis yang ditetapkan lima kali dalam sehari untuk musyawarah, saling memahami dan saling mencintai. Masjid juga kerap menjadi lembaga untuk pusat pendidikan amaliyah yang mendasar di dalam membangun umat.

Karena itulah Ummu Mahjan tidak meninggalkan pekerjaannya yang selalu membersihkan masjid. Ia juga tidak meremehkan perkara penting untuk berbuat baik kepada Rasulullah dan para shahabatnya di dalam menjaga kebersihan tempat musyawarah, masjid.

Ummu Mahjan menunaikan tugasnya sampai ia meninggal di masa Rasulullah setelah waktu shalat Isya. Namun, saat itu sahabat mendapati Rasulullah sedang tidur. Mereka merasa enggan untuk membangunkannya lalu mereka menyalatkan jenazah Ummu Mahjan dan menguburkannya di Baqi’ al-Gharqaad.

Pagi harinya, Rasulullah merasa kehilangan Ummu Mahjan yang biasanya terlihat membersihkan masjid. Rasul pun menanyakan tentangnya kepada para sahabatnya.

“Kemana wanita yang biasa membersihkan masjid itu?” tanya Rasul kepada sahabat.

“Dia sudah wafat dan telah dikuburkan ya Rasulallah,” jawab seorang sahabat.

“Mengapa kalian tidak memberitahu aku bahwa ia sudah wafat?”. Tanya Rasul lagi.

“Kami pikir ia hanya orang biasa yang tidak perlu harus memberitahu engkau atas kematiannya,” jelas sahabat.

Rasulullah menjadi kecewa atas sikap dan pandangan para sahabat seperti itu, untuk menunjukkan penghormatan kepada Ummu Mahjan, Rasulullah meminta ditunjukkan di mana kuburannya dan setelah ditunjukkan, beliau pun melaksanakan shalat jenazah di atas kuburnya itu yang disebut dengan shalat ghaib.

Lalu Rasul pun berkata, ”Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyolatkannya.”

Ummu Mahjan, seorang wanita tua yang miskin lagi lemah. Meski demikian ia telah mempersembahkan sesuatu yang bernilai sesuai dengan kemampuannya. Kisah ini menjadi pelajaran bagi kaum muslimin pada perputaran sejarah agar tidak meremehkan sesuatu dari amalan meskipun sedikit.

Karenanya, pantas ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah hingga ia wafat. Bahkan Rasul menegur para sahabat yang tidak memberitahukan kepadanya perihal kematiannya. Bahkan Rasul bersegera menuju kuburnya untuk menyolatkannya agar Allah menerangi kuburnya. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk meniru dan meneladani akhlaknya. [fathur-bbs]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Muslimah Indonesia di Melbourne Galang Dana untuk Masjid

SUARAMASJID.com| Melbourne– Perempuan muslim Indonesia di Melbourne yang tergabung dalam Indonesian Muslim Community of Victoria …

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …

Translate »