doc

Lukman El Hakim Sang Penjaga Sandal

Awalnya Lukman hanya menjadi penjaga sandal dan parkir di masjid. Kini ia berbisnis SPBU, trader dan konsultan pelumas. Ikuti kisahnya.

Salah satu kebiasaan masa kecil Lukman El Hakim, pengusaha sukses asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, adalah gemar datang ke masjid. Baik untuk ibadah, belajar, tidur, hingga bersih-bersih masjid. ”Orang tua saya menganjurkan saya untuk sering-sering ke masjid,” kisahnya saat ditemui di rumahnya.

Lelaki 51 tahun ini biasa dipanggil Daeman saat kecil, bahkan sampai SMA masih menjadi penjaga sandal masjid dan tukang parkir masjid. Selain mengikuti anjuran orang tuanya, kecintaan Lukman kepada masjid juga karena ajaran Rasulullah, karena di masjid lah terdapat banyak berkah.

Dilahirkan dari keluarga pegawai negeri yang pas-pasan, Lukman dididik oleh orangtuanya, H Abdul Rahim Muhammad Shaleh dan Hj Zainab, menjadi pribadi yang ulet dan mandiri. Bersama kakaknya, Abdul Haris, sejak kecil ia sudah terbiasa berjualan jasa dan makanan di acara-acara di luar masjid. Sejak kecil juga, Lukman sudah punya cita-cita menjadi businessman.

Dari kerja kecil-kecilan itulah, ia mampu menambah ongkos jajannya ketika duduk di bangku sekolah. Setelah lulus SMA Negeri 1 Mataram Lombok, Lukman melanjutkan kuliah di Universitas Mataram (UNRAM) jurusan Ekonomi. ”Apa yang kita dapatkan sekarang adalah berkah dari masjid. Makanya kalau mencari rumah, saya selalu mencari yang dekat masjid,” kata lelaki dari 7 bersaudara ini.

Selama di kampus, berbagai aktivitas kampus ia ikuti. Misalnya, Lukman pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ekonomi UNRAM. Saat itu ia tak gengsi untuk memakai sepeda bututnya mondar-mandir dari rumah ke kampus. Selain itu, ia juga aktif mengajar di pesantren Al-Aziziyah yang berjarak 5 km dari rumahnya.

Tak hanya mengajar di pesantren, Lukman juga aktif sebagai Sekretaris Ma’ahad Tahfizul Qur’an, Pondok Pesantren Al-Aziziyah Lombok Barat, NTB. Sebagai pengurus pesantren ia bertugas mencarikan dana untuk pembangunan lokal kelas dan asrama pesantren. Tak jarang ia haru berjalan kaki meski yang ia dapat saat itu hanya sebesar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Hijrah Ke Jakarta

Lukman pertama kali ke Jakarta ketika bersama almarhum Tuan Guru H. Musthafa Umar menyerahkan proposal pembangunan pesantren. Itulah pertama kalinya ia mengenal Jakarta, tapi sejak saat itu Jakarta telah menjadi daya tarik baginya. Apalagi, saat itu calon istrinya baru lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Hal ini semakin membuatnya bertekad untuk ke Jakarta mencari pengalaman baru.

Nasihat orangtuanya “Kalau ingin berhasil, merantaulah!” semakin membuatnya bersemangat. Lelaki kelahiran Mataram, 29 Januari 1965 ini akhirnya menerima panggilan kerja di sebuah perusahaan di Jakarta, meski pada waktu itu ia belum lulus. Setelah lulus dan diwisuda, Lukman pun pun hijrah menuju Jakarta. Bekalnya waktu itu, Rp 100 ribu, dikirim dari perusahaan yang menerimanya.

Pertama kali di Jakarta ia tinggal di rumah direktur perusahaan. Tapi kenyataan hidup memang tak seindah harapan. Meski langsung mendapatkan jabatan sebagai Manajer Marketing, Lukman merasa tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan posisinya itu. Waktu itu produknya adalah hand clean.

Singkat ceritalukman, dalam suatu kesempatan, calon istrinya menginformasikan sebuah lowongan baru sebagai sales di PT. Datascrip, sebuah perusahaan terpandang yang menyediakan peralatan-peralatan kantor. Tanpa membuang kesempatan, Lukman pun melamar ke perusahaan itu, dan diterima sebagai salesman.

Satu hal yang selalu ia ingat dan selalu menjadi penyemangat dirinya untuk berjualan, yaitu ungkapan manager personalia yang mewawancarainya, ”Aku yakin kamu pasti bisa menjual kursi kantor ini.” Dalam hati kecilnya Lukman berkata, ”Orang lain saja tahu kalau saya bisa menjual, kenapa saya tidak yakin dengan diri sendiri ya?”

Setelah positif diterima sebagai karyawan, Lukman pun mengajak calon istrinya (Intani Khoirina) untuk langsung menikah. Pernikahan dilangsungkan di Tangerang, Banten, tanpa dihadiri orang tua Lukman. ”Istri saya juga baru beberapa bulan di Jakarta. Jadi sama-sama modal nekat,” kenangnya. “ Saya modal Rp 1,5 juta hasil pinjam kepada kakak untuk menikah,” tambah Lukman.

Setelah menikah, Lukman tentu saja belum mampu untuk mengontrak rumah atau kos. Keduanya terpaksa tinggal di rumah Pak De dari istri selama tiga bulan. Setelah itu keduanya mulai indekost selama 3 bulan, dan setelah mendapatkan penghasilan yang cukup mulai mengontrak dengan harga Rp 750 ribu setahun.

Tanggung jawab sebagai calon ayah membuat Lukman semakin giat bekerja. Dengan mengenakan celana cutbrai dan logat bahasa Lombok yang kental ia menembus pasar kursi perkantoran di bilangan Jalan Sudirman, MH. Thamrin, dan Gatot Subroto. Hasilnya, dalam waktu setahun ia sudah tercatat sebagai 10 sales terbaik di Indonesia untuk pemasaran di Datascrip.

Karena kelelahan berjalan kaki terus, Lukman pun kemudian membeli motor bekas merk Vespa Bajaj tahun 1975 seharga Rp 550 ribu. Uang sebanyak itu hasil pinjaman dari temannya. Tapi dengan begitu, ia bisa menjelajahi Jakarta untuk memasarkan produk-produknya. Tak jarang ia ditilang oleh Polisi karena ke sasar jalan. ”Bahkan motor masuk tol pun saya pernah. Maklum orang kampung,” katanya.

Taktik Lukman sederhana dalam memasarkan produk-produk kursi kantornya. Mula-mula ia meminjamkan kursinya kepada calon pembeli untuk dipakai selama satu atau dua minggu. Sebelum waktunya habis, ia akan menarik kursinya. Nah, dari situ, kebanyakan calon pembelinya biasanya sudah “jatuh cinta” dengan kursi miliknya, karena merasa sudah nyaman dan betah dalam bekerja. Biasanya juga, mereka pun akan membeli kursi yang sudah dicoba itu.

Tak heran jika ia kemudian dipercaya menggarap segmen market oil company, dan ternyata cukup berhasil sehingga hampir seluruh perusahaan oil company memakai kursi yang ia jual. ”Akhirnya, dalam setahun saya dapat membeli mobil meski bekas,” terangnya.

Perkembangan selanjutnya, Lukman bersama paman dari istrinya mendirikan perusahaan dengan bendera PT. Sugiron Citra yang bergerak di bisnis pelumas. Selain pernah menjadi distributor tunggal oli POLO dan Total di Indonesia, Lukman juga pernah menjadi distributor oli Shell di Surabaya dan Bekasi. Bahkan sampai sekarang ia masih tercatat sebagai distributor oli Castrol untuk kapal-kapal.

Selain menjadi distributor, Lukman juga bergerak di bisnis pabrikasi tabung LPG, blending plant, niaga BBM dan SPBU di beberapa tempat. Saat ini ia telah mendirikan rest area di jalan tol Jakarta-Cikampek Km 39 dan di jalan tol Kanci-Palimanan Cirebon. Selain diisi dengan fasilitas standar, seperti SPBU, dan Mall, salah ciri khas rest area milik Lukman adalah keberadaan masjid indahnya.

Menurut Lukman, kunci sukses berbisnis adalah tetap dekat dengan Sang Khalik, selalu meminta petunjuk-Nya atas usaha yang dijalani dan banyak bersedekah. Selain itu, tentu saja harus ada self motivation dalam diri. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri. ”Kalau di awal saja tidak yakin dengan apa yang dilakukan maka lebih baik tidak usah,” katanya.

Menurut Lukman, ada dua dosa maut yang harus dihapus dalam diri salesman, yaitu ”rasa malas dan takut.” Kalau sudah datang rasa malas, maka jangan harap seorang sales bisa menjual produknya. Selain itu, takut bertemu dengan orang juga penyakit. ”Seorang penjual harus percaya diri untuk bertemu orang dalam menawarkan produk,” katanya.

Dalam berbisnis Lukman memegang prinsip kejujuran. ”Saya punya prinsip kejujuran. Saya tidak segan mengeluarkan orang jika tidak jujur. Berapa kali karyawan yang dikeluarkan karena menyalahgunakan kepercayaan yang sudah saya tanam. Sebab jika ini dibiarkan akan menjadi duri dalam daging,” tegasnya. [FR]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Usamah Hisyam, Dai Jurnalis yang Lantang Berdakwah ke Penguasa

SUARAMASJID| Peci hitam menjadi khas lelaki paruh baya ini, gaya bahasa yang lantang dalam menyuarakan …

Indonesia Raih Juara Dua Tahfidz 30 Juz Internasional

SUARAMASJID| Yordania–Indonesia patut berbangga karena salah satu putri terbaiknya, Rifdah Farinah, berhasil meraih peringkat 2 …

Translate »