ilustrasi

Khubaib ibn ‘Adi Syahid di Kayu Salib

ilustrasi
ilustrasi

Di tengah pertemputan perang Badar, Khubaib ibn ‘Adi sangat gigih membela Islam, ia laskar jihad yang tak takut mati. Beberapa tokoh quraisy mati ditangannya dalam pertempuran pada bulan Ramadhan.

Pasca perang, Khubaib menerima tugas dari Nabi Muhammad saw untuk menyelidiki rencana-rencana yang akan dilakukan kaum kafir Quraisy. Bersama ‘Ashim ibn Tsabit dan shahabat yang berjumlah 10 orang, mereka berangkat menuju markas kaum kafir di Makkah.

Namun gerakan para shahabat ini tercium oleh orang-orang Quraisy dari kampung Hudzail yang didiami suku Bani Haiyan. Dengan pasukan berjumlah seratus orang, mereka langsung menyusul jejak Khubaib dan kawan-kawan untuk menghalangi misi mereka.

Sampai di sebuah bukit antara Osfan dan Makkah, kaum Muslimin didesak Bani Haiyan untuk menyerah. Rupanya kaum Muslimin tidak menyadari bahwa jejak mereka mudah dilacak lantaran menyisakan biji-biji kurma perbekalan mereka. Maka terjadilah ketegangan antara sepuluh shahabat dengan Bani Haiyan yang berjumlah seratus orang itu.

Dalam insiden itu pasukan pemanah Bani Haiyan membunuh delapan orang kaum Muslimin. Sementara Khubaib dan Zaid ibn Ditsinnah justru ditawan dan dibawa ke markas besar kaum kafir Quraisy di Makkah. Tertangkapnya Khubaib, pahlawan perang Badar umat Islam ini, menjadi berita besar dan tersiar ke seluruh penduduk Makkah.

Adalah Harits ibn ‘Amir, suku Quraisy yang kehilangan keluarganya dalam pertempuran perang Badar mengingat jelas, bahwa Khubaib sang pembunuh keluarganya.

Kesempatan untuk membalas kematian keluarganya tidak disia-siakan Harits begitu melihat Khubaib tertangkap. Harits mengambil Khubaib sebagai budaknya sekaligus untuk membalaskan dendam keluarganya. Ternyata tidak hanya Harits yang menghendaki hal itu. Beberapa penduduk Makkah yang mengalami hal serupa juga menginginkan Khubaib celaka.

Akhirnya mereka sepakat menyusun rencana pembalasan yang mengerikan. Khubaib yang tidak berdaya itu diseret ke sebuah tempat penyiksaan di mana sudah disiapkan para algojo dan pemanah. Di bawah penguasaan kaum yang dholim itu, Khubaib hanya bisa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt.

Di tengah deru siksa kaum kafir, Khubaib tetap yakin bahwa ajaran Nabi Muhammad adalah satu-satunya petunjuk yang benar. “Demi Allah tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri,” ujar Khubaib.

Keteguhan iman Khubaib ini pun membuat kaum kafir Quraisy semakin geram. Penyiksaan demi penyiksaan terus dilakukan tanpa prikemanusiaan. Tatkala kaum kafir telah berputus asa dari apa yang mereka harapkan, mereka menyeret Khubaib ke Tan’im, tempat kematiannya. Sebelum kembali disiksa, Khubaib menyempatkan diri untuk shalat dua rakaat. Di hadapan para algojo itu Khubaib berucap, “Mati bagiku tak menjadi masalah asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah,” tegasnya.

Laksana aba-aba pasukan, kata-kata Khubaib langsung dibalas dengan serangan anak panah orang-orang kafir. Tubuh yang terpasung di pelepah kurma itu hanya bisa menahan perihnya luka, dan pasrah kepada Allah swt. Setelah orang-orang kafir puas, Khubaib pun ditinggalkan dengan tubuh masih terikat ditengah padang pasir.

Diakhir ajalnya, Khubaib menghadapkan muka ke langit sambil berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami!” doa Khubaib.

Doa Khubaib pun didengar Allah, sewaktu Rasul di Madinah, tiba-tiba ia diliputi perasaan yang kuat, memberitahukan bahwa para sahabatnya dalam bahaya. Terbayang pula tubuh salah seorang mereka sedang tergantung di awing-awang. Dengan segera Rasulallah memerintahkan Miqdad ibn Amar dan Zubair ibn Awwam untuk menyusul Khubaib dan kawan-kawan.

Dengan petunjuk Allah, mereka menemukan Khubaib masih bergantung di pelepah kurma dalam keadaan syahid. Kepergian Khubaib membawa kesedihan yang mendalam bagi kaum Muslimin serta membangkitkan semangat rela berkorban demi dakwah Islam. Karena perjuangan mereka pula, Islam kini kita kenal. [FR-AM]

 

 

 

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Muslimah Indonesia di Melbourne Galang Dana untuk Masjid

SUARAMASJID.com| Melbourne– Perempuan muslim Indonesia di Melbourne yang tergabung dalam Indonesian Muslim Community of Victoria …

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …

Translate »