Kepala Daker Makkah Tegur Tiga Perusahaan Katering

MAKKAH, (SM)– Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Arsyad Hidayat memberikan teguran keras kepada tiga perusahaan penyedia katering bagi jemaah haji Indonesia di Makkah. Teguran keras ini diberikan menyusul adanya catatan buruk pada hasil pengawasan tim pengawas katering Daker Makkah yang dilakukan pada fase persiapan sampai menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia.

“Kami memberikan teguran keras ke tiga dapur karena berdasarkan hasil laporan dan saya juga melihat sendiri saat berkunjung ke tiga dapur tersebut, memang ada beberapa persiapan yang belum maksimal. Ternyata ketika dicek hari ini oleh tim pengawas, ada perubahan tapi tidak signifikan,” tegas Arsyad dikutip kemenag.go.id, Selasa (16/08).

Jemaah haji Indonesia akan mendapatkan layanan katering makan siang dan makan malam, masing-masing sebanyak 12 kali ketika di Makkah. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah menjalin kontrak kerjasama dengan 23 perusahaan penyedia layanan katering, 12 perusahaan katering yang sudah memberikan layanan pada tahun lalu dan 11 perusahaan katering yang baru tahun ini memberikan layanan kepada jemaah haji Indonesia.

Untuk memastikan kesiapan perusahaan, tim pengawas katering Daker Makkah melakukan monitoring persiapan, khususnya kepada 11 perusahaan baru. Hasilnya, tiga perusahaan dinilai kurang maksimal dalam proses persiapan sehingga mendapat teguran keras dari Kadaker Makkah. Ketiga perusahaan tersebut adalah Syalal Asia, Ruwat Makkah, dan Rimas.

“Ini bentuk keseriusan kita, bagaimana supaya pelayanan katering jemaah haji Indonesia di Makkah tahun ini bisa lebih baik,” kata Arsyad. Menurutnya, layanan katering tahun ini adalah yang kedua sehingga tim Daker Makkah sudah memiliki pengalaman, dan tahu bagaimana kelemahan pada persiapan penyediaan layanan katering tahun lalu.

“Besok kami akan ke lapangan untuk mengecek dan melihat bagaimana progresnya. Bagi dapur yang ternyata tidak memperlihatkan keseriusannya, maka bisa dipertimbangkan untuk di-blacklist,” tandasnya.
Ditambahkan Arsyad, banyak dapur yang berkomitmen melayani jemaah dan itu harus diapresiasi.

Perusahaan yang tahun ini baik dan punya kemampuan melakukan lebih dari yang diminta, harus diberikan apresiasi, apakah dengan menambah jumlah layanan katering, atau yang lainnya. Kalau tahun ini ada 23 perusahaan, tahun depan bisa jadi cukup 20 saja.

Sebelumnya Kasi Pengawas Katering Evi Nuryana mengatakan bahwa berdasarkan hasil monitoring tim pengawas, persiapan dapur katering sampai saat ini sudah mencapai 70%. Dari 23 dapur yang dikontrak, masih ada catatan untuk tiga perusahaan. “Batas waktu terakhir adalah tanggal 17 Agustus terkait kesiapan mereka,” ujarnya.

Evi mengaku kalau dua belas perusahaan yang sudah melayani jemaah pada haji tahun lalu, tingkat kesiapannya sudah 90%. Sebab, selain melayani pada masa haji, mereka juga melayani masa umrah. Jadi 90% sudah siap, kecuali bahan segar yang baru akan datang besok. “Kalau bahan kering dan beku, semua sudah ada,” katanya.

Temuan Pengawasan

PPIH Arab Saudi telah membentuk tim pengawas katering yang terdiri dari 5 pakar kuliner dan ahli tataboga yang juga tenaga pengajar dari Sekolah Tinggi Pariwisata (SPT) Bandung. Mereka adalah Mandradhitya Kusuma, Anwari Masatip, Rahdiwansyah, Dhonny Yusuf, dan Saripuddin. Selain itu, ada juga dua orang ahli sanitasi dan surveilance (sansur) dari Kementerian Kesehatan: Sayekti dan Mugi Wahidin.

Sepekan melakukan pengawasan di 11 dapur penyedia layanan katering jemaah haji Indonesia, tim ini menemukan beberapa catatan. Secara umum, Mandraditya Kusuma Putera selaku perwakilan tim pengawas meminta seluruh penyedia layanan katering untuk komitmen pada koki (chef) yang harus berasal dari Indonesia dan masalah penggunaan food warmer (penghangat makanan) dalam proses distribusi dari dapur ke hotel jemaah.

Secara khusus, Mandraditya memberikan catatan kepada tiga katering, yaitu: Rimas Katering, Ruwath Makkah, dan Syalal Asia. “Dari hasil pengawasan yang dilakukan pada tanggal 11 Agustus lalu, kami menemukan koki dapur tidak mempunyai kompetensi yang memadai dan ini harus segera diperbaiki. Selain itu, tim sansur juga mendapati beberapa fasilitas dapur tidak dalam kondisi bersih sesuai standard. Kami sudah membuat teguran lisan agar Rimas bisa segera memperbaiki,” terangnya.

“Kita akan lakukan visitasi ulang untuk Rimas. Deadlinenya adalah besok dan kita minta semua sudah siap sesuai kontrak,” tegasnya lagi.

Problem utama dapur Ruwat Makkah saat divisitasi adalah masalah sanitasi. Adapun kokinya, sudah mempunyai kemampuan yang bagus dalam memasak. “Besok kami akan visit dan berharap masalah sanitasi sudah beres. Kami percaya dengan kualitas dan rasa makanan. Hanya selain itu, masalah sanitasi juga sangat penting,” terangnya.

Untuk dapur Syalal Asia, tim pengawas mencatat masalah yang terkait dengan sanitasi dan perlengkapan. Di samping itu, freezer tempat menyimpan makanan juga perlu diperbaiki dan dibersihkan. “Perlengkapan tungku nasi masih kurang karena baru dua. Minimal ada empat dan besok saya minta sudah siap,” jelas Mandraditya.

Terkait temuan ini, Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat kembali menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan visitasi ulang besok dan meminta agar semuanya sudah siap sesuai kontrak. “Kami tidak mau mendengar lagi jawaban akan disiapkan. Jika masih belum siap, kami akan melakukan tindakan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan kami blacklist,” tandasnya. [FR-Pinmas]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Pembatalan Haji 2020, Dirjen: Saudi Belum Buka Akses Layanan

SM | Jakarta–Kementerian Agama memutuskan membatalkan keberangkatan jemaah haji 1441H/2020M. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah …

Efek Covid-19, Pemerintah Putuskan Haji 2020 Tidak Berangkat

SM | Jakarta–Calon jemaah haji tahun ini mesti bersabar. Rencana keberangkatan haji yang sudah di …

Translate »