Iman sebagai Tolak Ukur Amalan

Segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan manusia harus terikat dengan keimanan, karena iman itu sesuatu yang sangat sentral dan menentukan. Bagaimana persepsi dan pandangan seseorang terhadap sesuatu tergantung pada keimanannya. Demikian dijelaskan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin saat mengisi kajian tafsir surat Al Ankabut ayat 11-12 di Masjid Al Hijri Bogor, Ahad (8/11/).

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu mencontohkan, bagaimana sikap seseorang menghadapi ujian hidup.

“Orang beriman merasakan bahwa musibah itu adalah sebuah keniscayaan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengujinya, kemudian ia sikapi dengan ketabahan, kesabaran maka dengan sifat iman yang dimiliki musibah itu akan membawa keberkahan. Tetapi jika imannya rusak dan tidak sabar maka musibah itu akan menjadi siksa bagi dirinya. Jadi segala sesuatu sangat tergantung pada keimanan,” ujarnya sebagaimana dilansir suara-islam.com.

Demikian juga dengan ibadah yang kita lakukan setiap hari itu tergantung keimanan. Misalnya berinfak, persoalannya bukan masalah punya atau tidak harta yang dimiliki, tapi persoalannya apakah ia beriman atau tidak. Karena banyak orang yang punya harta tapi ia enggan untuk berinfak, sedangkan orang beriman ia akan selalu berusaha untuk infak.

“Ketika ada tantangan atau ujian disitulah Allah subhanahu wa ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik. Karena orang munafik termasuk orang yang beriman tetapi imannya hanya sampai mulut,” katanya.

Dan salah satu ciri orang munafik ketika menghadapi berbagai ujian dari Allah, ia tidak pernah sabar, ia tidak ingin mengalami penderitaan dalam hidupnya, ia ingin selalu senang, dan ingin mendapatkan keuntungan dalam hidupnya.

Oleh karena itu kita selalu diperintahkan untuk selalu memperbaharui keimanan, dengan pengajian, dengan sholat dan doa yang kita lakukan sesungguhnya itu memberikan energi baru dalam keimanan kita.

“Dan dimana pun kita berada, keimanan itu harus dibawa baik itu dikantor, pasar, kampus, maupun dirumah, karena dengan keimanan semua aktivitas bisa bernilai ibadah,” pesan kyai Didin. [fathur-SI]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Pengajian UAS Dihadiri Ribuan Jamaah di Yogjakarta

SM| Yogjakarta–Ustaz Abdul Shomad (UAS) hadir di Masjid Kampus Terpadu Ulil Albab Universitas Islam Indonesia …

Ustazah Oki Ceramah di Tabligh Akbar di Papua

SM| Timika–Tabligh Akbar bersama Ustazah Oki Setiana Dewi yang digelar oleh Salimah Papua dan  komunitas …

Translate »