Begini Hukum Sayembara dalam Islam

Oleh : Aisyah Mahasiswi Manajemen Bisnis Syariah Kampus STEI SEBI

SM | Jakarta–Sayembara dalam islam juga bisa disebut sebagai Akad Ju’alah. Sebelum kita membahas hukum sayembara dalam islam, pelu kita ketahui terlebih dahulu makna dari sayembara/Ju’alah itu sendiri. Secara singkat, Ju’alah artinya upah yang diberikan kepada seseorang atas sebuah pekerjaan yang telah diselesaikannya.

Menurut Ulama Maliki, Ju’alah bermakna Ijarah atas manfaat yang masih diragukan perolehannya. Seperti jika ada yang berkata, “Bagi siapa yang bisa mengembalikan hewan saya yang hilang atau menemukan budak saya yang lari, maka baginya sesuatu”.

Sedangkan menurut Ulama Hambali, Jua’alah adalah sebutan bagi suatu upah yang dijanjikan oleh pihak pertama atas pekerjaan mubah yang dilakukan walaupun perbuatan tersebut umum atau pekerjaan yang membutuhkan waktu, walaupun waktu tersebut tidak dibatasi.

Adapun hukum akad Ju’alah, ada Ulama yang membolehkan, ada juga yang melarang. Diantara Ulama yang membolehkan Akad Ju’alah, yakni Ulama Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 72:

قالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيْرٍوَّاَنَاْ بِهِ زَعِيْمٌ  (72)

“Mereka menjawab, “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu”.

Selain itu, kebolehan melakukan Akad Ju’alah dikuatkan dengan hadis riwayat Abu Sa’id Al-Khudriy ra. bahwa dikisahkan ada sejumlah sahabat Rasulullah Saw. mendatangi sebuah perkampungan Arab. Namun, penduduknya tidak menerima mereka sebagai tamu. Di saat yang sama, pemimpin mereka digigit ular (ada juga yang bilang disengat serangga). Lalu, penduduk tersebut bertanya pada para sahabat itu, “Apakah di antara kalian ada ahli ruqyah?” Mereka menjawab, “Kalian tidak mengakui kami sebagai tamu maka kami pun tidak akan berbuat apa-apa pada kalian, kecuali kalian memberi kami imbalan. Lalu, mereka menjanjikan sejumlah kambing (kira-kira tiga puluh ekor) kepada para sahabat sebagai upah jika berhasil menyembuhkan pemimpin mereka. Akhirnya salah seorang sahabat mulai membacakan surah Al-Fatihah, kemudian ia mengumpulkan ludahnya dan diusapkan (pada bagian yang luka). Lalu, pemimpin itu sembuh dan mereka pun memberikan sejumlah kambing yang dijanjikan diawal kepada para sahabat. Namun, para sahabat berkata, “Kami tidak akan mengambil kambing-kambing tersebut sampai kami bertanya kepada Rasulullah Saw.” mereka pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Beliau tertawa dan bersabda,“Kalian tahu dari mana bahwa surah itu adalah ruqyah? Ambillah upah tersebut dan berilah aku bagian!”.

Walaupun begitu, ada pula ulama yang melarang akad Ju’alah, yakni Ulama Hanafi. Menurut beliau, akad Ju’alah mengandung unsur tipuan, dilihat dari segi waktu dan jenis pekerjaan yang tidak pasti bisa diselesaikan atau masih bersifat gharar. Namun Ulama Hanafi memberikan pengecualian dalam hal Ju’alah pada budak yang lepas, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

Di Indonesia sendiri sudah ada fatwa mengenai Akad Ju’alah. Berdasarkan Fatwa DSN MUI (Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia) nomor 62/DSN-MUI/XII/2007 tentang Akad Ju’alah, yang ditetapkan di Jakarta, 26 Dzulqa’dah 1428 H/06 Desember 2007 M. Sebagai berikut:

Pertama, Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

  1. Ju’alah adalah janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan (reward/’iwadh/ju’l) tertentu atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan.
  2. Ja’il adalah pihak yang berjanji akan memberikan imbalan tertentu atas pencapaian hasil pekerjaan (natijah) yang ditentukan.
  3. Maj’ul lah adalah pihak yang melaksanakan ju’alah.

Kedua, Ketentuan Akad

Akad ju’alah boleh dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa sebagaimana dimaksud dalam konsideran di atas dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Pihak Ja’il harus memiliki kecakapan hukum dan kewenangan (muthlaq al-tasharruf) untuk melakukan akad;
  2. Objek jua’lah (mahal al-‘aqd/maj’ul ‘alaih) harus berupa pekerjaan yang tidak dilarang oleh syariah, serta tidak menimbulkan akibat yang dilarang;
  3. Hasil pekerjaan (natijah) sebagaimana dimaksud harus jelas dan diketahui oleh para pihak pada saat penawaran;
  4. Imbalan ju’alah (reward/’iwadh/ju’l) harus ditentukan besarannya oleh ja’il dan diketahui oleh para pihak pada saat penawaran; dan
  5. Tidak boleh ada syarat imbalan diberikan di muka (sebelum pelaksanaan objek ju’alah);

Ketiga, Ketentuan Hukum

  1. Imbalan ju’alah hanya berhak diterima oleh pihak maj’ul lahu apabila hasil dari pekerjaan tersebut terpenuhi;
  2. Pihak ja’il harus memenuhi imbalan yang diperjanjikannya jika pihak maj’ul lahu menyelesaikan (memenuhi) prestasi (hasil pekerjaan/natijah) yang ditawarkan.

Keempat, Ketentuan Penutup

  1. Jika terjadi perselisihan (persengketaan) diantara para pihak, dan tidak tercapai kesepakatan diantara mereka maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional atau melalui Pengadilan Agama
  2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Dengan pembahasan diatas kita dapat mengetahui bagaimana hukum sayembara dalam Islam. Ada ulama yang membolehkan melakukan sayembara/Akad Ju’alah, ada juga Ulama yang melarang. Sehingga ini bukan sebagai bahan untuk diperdebatkan. Adapun objek yang disayembarakan tentu bukan hal yang melanggar syari’at Islam. Wallahua’lam bis shawab.

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Manajemen Risiko Melalui Asuransi

Oleh: Silpi Asdianti (Mahasiswa STEI SEBI) Risiko merupakan suatu akibat atau penyimpangan realisasi dan rencana …

Risiko yang Disebabkan Covid-19 dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh: Hotnaida Siregar (Mahasiswi STEI SEBI DEPOK) Seperti yang kita ketahui bahwa virus Corona atau …

Translate »