ilustrasi tdk ada kaitanya dg isi tulisan

Arasy Bergetar Saat Saad Wafat

Saad bin Muadz seorang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Saad masuk Islam pada usianya yang ke-31 tahun melalui dakwah yang disampaikan Mush’ab bin Umair, utusan Rasulullah SAW ke Yatsrib/ Madinah.

Berita masuknya Saad menjadi Muslim didengar suku Bani Abdil Asyal, maka saat itu juga seluruh Bani Asyal mengikrarkan diri sebagai Muslimin. Bahkan tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, maka rumah-rumah kediaman Bani Abdil Asyhal, pintunya terbuka lebar bagi golongan Muhajirin, begitu pula harta kekayaan mereka.

Saat perang Badar, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya dari golongan Muhajirin dan Anshar bermusyawarah tentang urusan perang, “Kemukakanlah buah fikiran kalian, wahai shahabat … ”

Maka bangkitlah Sa’ad tak ubahnya bendera di atas tiangnya, katanya, “Wahai Rasulullah ! Kami telah beriman kepada anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami. Maka laksanakanlah terus, ya Rasulallah apa yang anda inginkan, dan kami akan selalu bersama anda … ! Dan demi Allah yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda menghadapkan kami ke lautan ini lalu anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur, dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan … ! Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada anda tindakan kami yang menyenangkan hati … ! Maka maulailah kita berangkat dengan berkah Allah Ta’ala… !”

Urain kata-kata Saad tak ubahnya seperti berita gembira, dan wajah Rasul pun bersinar-sinar dipenuhi rasa ridla dan bangga serta bahagia, lalu katanya kepada kaum Muslimin, “Marilah kita berangkat dan besarkan hati karena Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan! … Demi Allah,… sungguh seolah-olah tampak olehku kehancuran orang-orang itu …”

Ketika perang Uhud, saat Muslimin bercerai-berai disebabkan serangan mendadak dari tentara musyrikin, maka takkan sulit bagi penglihatan mata untuk menemukan kedudukan Saad. Posisinya selalu dekat Rasulullah mempertahankan dan membelanya mati-matian.

Begitu juga saat perang Khandak, Saad juga memerankan posisinya dengan penuh gemilang. Di mana pada perang Khandak ini menjadi bukti nyata atas penghianatan Yahudi atas perjanjian Piagam Madinah.

Tatkala Rasulullah bersama para sahabat hidup sejahtera di Madinah mengabdikan diri kepada Allah saling nasihat-menasihati agar mentaati-Nya serta mengharap agar orang-orang Quraisy menghentikan serangan dan peperangan, segolongan pemimpin Yahudi secara diam-diam pergi ke Makkah dan menghasut orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah sambil memberikan janji dan ikrar akan berdiri di samping Quraisy bila terjadi peperangan dengan orang-orang Islam nanti.

Mereka juga membuat perjanjian dengan orang-orang musyrik itu dan mengatur rencana siasat perang. Bahkan mereka juga berhasil menghasut kabilah Gathfan dan mencapai persetujuan untuk menggabungkan diri dengan tentara Quraisy.

Quraisy dan Gathfan pun siap menyerang Madinah dengan tentara besar-besaran, sementara orang-orang Yahudi ketika Muslimin mendapat serangan secara mendadak itu, akan melakukan penghancuran di dalam kota dan sekelilingnya.

Mengetahui rencana busuk ini, Rasulullah mengambil langkah-langkah pengamanan. Maka Nabi memerintahkan menggali khandak atau parit perlindungan sekeliling Madinah untuk membendung musuh. Rasul pun mengutus Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah kepada Ka’ab bin Asad pemimpin Yahudi suku Quraidha untuk menyelidiki sikap mereka yang sesungguhnya terhadap orang yang akan datang, meskipun antara mereka dengan Nabi sebenamya telah ada perjanjian dan persetujuan damai.

Saad dan temannya terkejut, karena ketika bertemu dengan pemimpin Bani Quraidha itu, jawabnya ialah, ”Tak ada persetujuan atau perjanjian antara Kami dengan Muhammad…!”

Melihat kenyataan sulit ini, Rasulullah memikirkan siasat untuk memisahkan suku Gathfan dari Quraisy, hingga musuh yang akan menyerang, kekuatannya tinggal separoh. Akhirnya mengadakan perundingan dengan para pemimpin Gathfan dan menawarkan agar mereka mengundurkan diri dari peperangan dengan imbalan akan beroleh sepertiga dari hasil pertanian Madinah. Tawaran itu disetujui oleh pemimpin Gathfan, dan tinggal lagi mencatat persetujuan itu hitam di atas putih.

Melihat keputusan itu, Saad bertanya kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, apakah ini pendapat anda sendiri, ataukah wahyu yang dititahkan Allah … ?” Rasulullah menjawab “Bukan, tetapi ia adalah pendapatku yang kurasa baik untuk tuan-tuan! Saad pun menjawab, ”Demi Allah, saya tidak hendak melakukannya kecuali karena melihat orang-orang Arab hendak memanah tuan-tuan secara serentak dan mendesak tuan-tuan dari segenap jurusan.”

Tak lama, Rasulullah merubah pendiriannya dan menyampaikan kepada para pemimpin suku Gathfan bahwa sahabat-sahabatnya menolak rencana perundingan, dan bahwa beliau menyetujui dan berpegang kepada putusan sahabatnya, Saad.

Kaum Muslimin pun memasuki suasana perang. Saad keluar membawa pedang dan tombaknya sambil berpantun, “Berhentilah sejenak, nantikan berkecamuknya perang Maut berkejaran menyambut ajal datang menjelang … !”

Dalam perjalanan kelilingnya nadi lengan Saad terkena anak panah yang dilepaskan oleh salah seorang musyrik. Darah menyembur dari pembuluhnya dan segera ia dirawat secara darurat untuk menghentikan darah. Nabi menyuruh membawanya ke mesjid dan mendrikan kemah untuknya agar ia berada di dekatnya selama perawatan.

Rasulullah berpendapat, mendiamkan perbuatan orang-orang Quraidha, berarti membuka kesempatan bagi kecurangan dan pengkhianatan mereka terhadap kota Madinah. Oleh sebab itulah Nabi mengerahkan shahabat-shahabatnya kepada Bani Quraidha itu. Pasukan Muslimin mengepung Yahudi selama 25 hari. Dan tatkala Bani Quraidha melihat mereka tak dapat melepaskan diri dari kaum Muslimin, mereka pun menyerah dan mengajukan permohonan kepada Rasulullah yang beroleh jawaban bahwa nasib mereka akan tergantung kepada putusan Saad.

Rasulullah berkata, “Wahai Saad! Berilah keputusanmu terhadap Bani Quraidha … !” Dalam pikiran Saad terbayang kembali kecurangan Bani Quraidha yang berakhir dengan perang Khandak dan nyaris menghancurkan kota Madinah serta penduduknya. Maka Saad pun mengambil keputusan untuk menghukum bunuh, perempuan dan anak mereka diambil jadi tawanan, sedang harta kekayaan mereka dibagi-bagi.

Luka yang diderita Saad setiap hari bahkan setiap jam kian bertambah parah. Suatu hari Rasulullah datang menjenguknya. Kiranya didapatinya ia dalam saat terakhir dari hayatnya. Maka Rasulullah meraih kepalanya dan menaruhnya di atas pangkuannya, lalu berdoa, “Ya Allah, Saad telah berjihad di jalan Mu, ia telah membenarkan Rasul-Mu dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh… !”

Di saat terakhir, Saad berusaha membuka matanya dengan harapan wajah Rasulullah adalah yang terakhir dilihatnya selagi hidup ini, katanya: “Salam atasmu, wahai Rasulullah… ! Ketahuilah bahwa aku mengakui bahwa anda adalah Rasulullah!”
Rasulullah pun memandangi wajah Saad lalu katanya: “Kebahaggaan bagimu wahai Abu Amr … !”
Dalam sebuah riwayat, Abu Sa’id al-Khudri berkata “Saya adalah salah seorang yang menggali makam untuk Saad, setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kasturi, hingga sampai ke liang lahat”.

“Sungguh, ‘Arasy Allah Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Saad … !” tutur Rasulullah dalam sebuah riwayatnya. [fathur-bbs]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Kirim ke suaramasjidkita@gmail.com Terima kasih

Check Also

Muslimah Indonesia di Melbourne Galang Dana untuk Masjid

SUARAMASJID.com| Melbourne– Perempuan muslim Indonesia di Melbourne yang tergabung dalam Indonesian Muslim Community of Victoria …

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …

Translate »