Home / Juru Dakwah / Ustadz Bachtiar Natsir Bangga menjadi Guru Ngaji
voaislam

Ustadz Bachtiar Natsir Bangga menjadi Guru Ngaji

Muslim Indonesia terbanyak di dunia, tapi masih banyak masyarakat yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Untuk itu Bahtiar Natsir bertekat membumikan al-Qur’an di Tanah Air dengan sistem AQL-nya.

Ustadz dengan kefasihan membacakan lafal al-Qur’an ini terus gencar mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat dari kalangan manapun. Di tengah kesibukan mengisi ceramah agama di beberapa pengajian, Bachtiar Natsir tetap memfokuskan diri membina dan melahirkan generasi Qur’ani di Ibu Kota. Cara paling sederhananya, ia mengajak masyarakat untuk mencintai al-Qur’an.

Menurut Bachtiar, saat ini kemampuan masyarakat Muslim untuk memahami al-Qur’an masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya, terdapat sekitar 100 juta penduduk Muslim di Indonesia yang tidak memiliki kitab suci al-Qur’an.

Sedangkan fakta lain dari hasil surveynya menunjukkan, di salah satu kabupaten terbesar di Sumatera Barat, hanya sekitar 12 % umat Islam yang memiliki al-Qur’an. Tidak menutup kemungkinan dari mereka hanya beberapa persen saja yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar.

Padahal al-Qur’an adalah pedoman hidup dan petunjuk jalan menuju keselamatan. Dengan kondisi masyarakat yang masih buta al-Qur’an, berarti akan menghalangi mereka untuk mengetahui makna dan isi kandungan al-Qur’an. “Al-Qur’an harus dipelajari secara utuh, baik nama dan sifatnya,” ujar pendiri Arrahmah Qur’anic Learning Center ini.

Keterbatasan masyarakat memiliki dan mengerti bacaan al-Qur’an merupakan kendala besar untuk memahami isi al-Qur’an. Bachtiar mengenalkan metode pembelajaran tadabbur dan tadarrus al-Qur’an dengan sistem yang dikenal dengan Arrahman Qur’anic Learning Center (AQL).

Komunitas pembelajar al-Qur’an yang sering mengisi acara tadabbur dan tadarrus al-Qur’an di masjid-masjid perkantoran dan pengajian umum ini mengajarkan cara mudah belajar al-Qur’an dengan ilmu tajwid, tartil dan qira’at. “Jika semakin cinta dengan al-Qur’an, memahaminya akan ikut mudah,” paparnya.

Perhatian Bachtiar terhadap pemahaman al-Qur’an ini tidak terlepas dari perjuangannya menekuni ilmu al-Qur’an dan ilmu hadis di jazirah Arab. Ketika masih belajar di bumi para nabi ini, Bahtiar belajar langsung dengan Nazilul Madinah, guru besar di Arab Saudi, bahkan ia sering berdialog tentang isi kandungan al-Qur’an dan ilmu hadis.

Pulang ke Indonesia, alumni Pondok Modern Gontor ini menjadi koordinator alumni Madinah yang konsen menyebarkan dakwah melalui pembelajaran al-Qur’an. Langkah Bachtiar ini dimulai dengan mengajak masyarakat untuk mempelajari al-Qur’annya sendiri. Sebab mereka yang memiliki al-Qur’an di rumah belum tentu membaca, memahami dan mengamalkan kandungan al-Qur’an.

Bachtiar sendiri memiliki pengalaman penuh hikmah tentang bukti cinta seseorang kepada al-Qur’an. Pada bulan Ramadhan, di sudut multazam Bachtiar melihat seorang kakek keturunan India sedang khusyu membaca al-Qur’an. Beberapa hari kemudian kakek tua itu tetap membaca, menulis dan mencoret-coter tinta di atas kertas.

Karena penasaran, pelan-pelan Bahtiar mendekati kakek tersebut dan bertanya, “Apa yang menyebabkan kakek sungguh-sungguh membaca al-Qur’an? tanya Bahtiar dengan nada iri. Pertanyaan itu diulang beberapa kali hingga kakek itu pun menjawabnya, “Sudah lama saya bercita-cita untuk membaca al-Qur’an dengan lidah saya sendiri, membaca dan didengarkan telinga saya sendiri, menyalin dengan tangan saya sendiri. Kelak al-Qur’an yang saya tulis ini akan saya wariskan kepada keluarga dan anak-anak saya,” ujar kakek.

Mendengar jawaban itu Bahtiar sangat terkejut dan penasaran dengan kakek tua itu. Setelah mencari informasi lebih banyak, diketahui bahwa kakek tersebut adalah salah satu cendekiawan Muslim yang rindu untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi keluarganya. Konon setelah menyelesaikan tugas tersebut, salinan al-Qur’an tadi menjadi karya ilmiah yang mendapat penghargaan tinggi. Pelajaran itu mengetuk pintu hati Bahtiar, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar al-Qur’an dan mengamalkannya.

 

Rahasia Guru Ngaji

Tidak semua orang bangga dan percaya diri mengakui profesinya sebagai seorang ustadz, guru TPA atau guru ngaji. Entah karena rendah diri, rendah hati, atau tidak percaya diri. Namun berbeda dengan Ustadz Bachtiar Natsir, pencetus program belajar al-Qur’an dengan sistemAQL ini.

Menurut mubaligh DKI Jakarta ini, orang yang mencintai sesuatu dengan segenap jiwanya, ia akan menikmati apapun yang mucul karenanya. “Ia bukan hanya menyelami semua kenyataan, tapi menikmati sesuatu yang muncul karenanya meskipun berakibat kematian,” ujar Bachtiar.

Sebuah profesi yang dijalani dengan cinta mampu memunculkan kedahsyatan. Misalnya, ketika Bahtiar berada di Amerika. Salah seorang warga Amerika bertanya kepadanya “what you profession? (apa pekerjaan kamu). Mendapat pertanyaan seperti itu, Bachtiar tegas menjawab “My profession guru ngaji,” ujarnya.

Bahtiar sengaja tidak menerjemahkan profesi “guru ngaji” ke bahasa Inggris, atau bahasa apapun, sehingga penanya hanya diam, pura-pura paham. Hal yang membuat penanya penasaran, Bachtiar Natsir sangat fasih berbahasa Inggis dan Arab tapi jawaban itu tidak menunjukkan bahasa Inggris atau Arab. Bahkan dengan profesinya itu jadwal Bahtiar ke luar negeri sangat padat.

Jenis profesi seperti ini memang tidak dikenal di manapun, kecuali di Indonesia. Menurut Bachtiar, profesi guru ngaji lebih mulia dari profesi direktur, manajer dan jabatan penting lainnya di perusahaan. Apalagi profesi guru ngaji dalilnya jelas dalam al-Qur’an. Khairukum man ta’alamal qur’aana wa allamahu. Dengan dasar inilah, Bahtiar bangga mengakui profesinya sebagai “guru ngaji” dimanapun.

Selama ini Bachtiar Natsir tidak hanya mengisi ceramah dan mengajarkan al-Qur’an di Indonesia saja. Ia sering mengisi ceraham (training) di beberapa perusahaan di luar negeri dengan bayaran yang tidak kalah dengan direktur atau manajer.

Dari satu kelas dengan jumlah siswa 50 orang, Bahtiar bisa mendapat 25 juta per bulan. Padahal saat itu Bahtiar mengajar 10 kelas, sehingga ia bisa mendapat 50 juta per bulan. Belum lagi tambahan dari kelas lain yang siswanya 400 orang, sehingga Bachtiar mendapat 100 juta per bulan.

Dengan jumlah upah yang cukup besar, Bachtiar justru merasa takut mengambil bagian dari penghasilannya itu. Akhirnya Bachtiar memutuskan untuk tidak menerima biaya belajar al-Qur’an. Ia cukup menerima bagian yang sepantasnya. “Saya hanya ingin mendapatkan syafa’at al-Qur’an di dunia dan akhirat,” ujar Bachtiar. [AM]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Ustadz al-Habsyi Dakwah dengan DUIT

Dakwah telah menjadi jalan hidup bagi Habib Ahmad al-Habsyi sejak kecil. Kemampuan ini diperolehnya dengan …