Home / Khazanah / Shafiyah Sang Pemberani di Medan Tempur
Masjid Pink di Manila

Shafiyah Sang Pemberani di Medan Tempur

SUARA MASJID–Suatu hari, Rasulullah SAW mengumpulkan keturunan Bani Abdul Muththalib di sebuah rumah. Lalu beliau mengajak mereka masuk Islam, “Hai Fathimah binti Muhammad! Hai Shafiyah binti Abdul Muththalib! Hai Bani Abdul Muththalib! Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian beriman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku.”

Ajakan Rasulullah itu tak serta merta disambut baik oleh keluarga Bani Abdul Mutholib. Ada yang menolak ada yang ragu, ada juga yang langsung menerima. Adalah Shafiyah binti Abdul Muththalib termasuk dalam kelompok yang langsung menyambut ajakan Rasulullah. Sejak itu, Shafiyah dan anaknya Zubeir bin Awwam masuk menjadi pengikut Islam.

Shafiyah yang keturunan bangsawan Bani Hasyim ketika hijrah ke Madinah, ikhlas meninggalkan Mekkah dengan segala kenangannya, status kebangsawanan, kemegahan, dan kemewahan. Shafiyah sosok yang pemberani dan penuh inisiatif. Selama bergabung dengan barisan kaum muslimin, Shafiyah selalu ikut di berbagai medan jihad.

Misalnya saja saat Perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama Rasulullah dalam pasukan wanita. Tugasnya mengangkut air, menyediakan anak panah, menyiapkan obat-obatan dan memperbaiki busur yang rusak.

Saat Perang Uhud berkecamuk, pasukan muslimin terdesak, Shafiyah melihat barisan mujahidin kocar-kacir menjauhi Rasulullah. Shafiyah pun mengambil sikap melemparkan tempat air yang dibawanya. Dengan tangkas ia melompat bagaikan singa betina yang sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Shafiyah maju menyerang barisan musuh yang ada dihadapannya. Ia berteriak kepada kaum muslimin, “Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah!”

Melihat itu, Rasulullah menyuruh Zubeir agar mencegah ibunya. Tapi, Shafiyah tetap maju sambil menyabetkan pedangnya ke arah musuh yang mendekatinya. “Mengapa aku harus kembali! Aku mendengar mayat Hamzah dirusak. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah,” teriaknya kepada Zubeir. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Zubeir agar membiarkan ibunya mencari mayat Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam Perang Uhud ini, Shafiyah kehilangan saudaranya, Hamzan bin Abdul Muthalib dengan perut rusak dirusak pasukan kafir.

Shafiyah juga aktif di Perang Khandaq. Saat itu, Shafiyah, para istri Rasulullah, isti para shahabat, dan anak-anak ditempatkan di pondok Hassan bin Tsabit. Pondok itu terletak di atas sebuah bukit, kokoh dan sukar ditembus musuh. Namun kafir Quraisy menyusupkan seseorang menuju pondok. Shafiyah segera mengetahui bahwa orang itu adalah mata-mata.

Dengan sigap Shafiyah mengenakan pakaian tempur. Diambilnya sebuah tongkat, lalu ia turun mendekati pintu. Direnggangkannya pintu perlahan-lahan. Kemudian dari celah-celah pintu itu, ia mengamati si Yahudi. Pada saat yang tepat, Shafiyah memukul kepala si Yahudi dengan tongkat. Musuh Allah itu langsung jatuh. Dengan sigap, Shafiyah memburu dan memukulnya kembali hingga tiga kali. Seketika itu juga si Yahudi tewas.

Untuk memberikan rasa takut pada pasukan kafir, Shafiyah memenggal kepala si Yahudi dan menggelindingkannya dari puncak pondok ke hadapan kawan-kawannya yang tengah menunggu. Melihat kepala kawannya terpotong, mereka saling menyalahkan. Seorang dari mereka berkata, “Kita sudah tahu, Muhammad tidak akan meninggalkan kaum wanita dan anak-anak tanpa pengawal.” Mereka pun angkat kaki ketakutan. Demikianlah, karena keberanian Shafiyyah, benteng itu selamat dari serangan kaum Yahudi, padahal ketika itu usia Shafiyyah telah mencapai 58 tahun. [FR-bbs]

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 0817-19-5001 Terima kasih

Check Also

Kemenag Resmikan Masjid Muslim Indonesia di Amsterdam

SUARAMASJID.com|Amsterdam–Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Masjid Muslim Indonesia …

Translate »