Home / Khazanah / Jejak Ulama / Prof Dr Tutty Alawiyah Melanglang Buana untuk Berdakwah
Foto beritabuana

Prof Dr Tutty Alawiyah Melanglang Buana untuk Berdakwah

Tutty Alawiyah dilahirkan untuk berdakwah. Sebutan ini tidaklah berlebihan bila ditelusuri jejak langkah hidupnya. Semenjak usia 9 tahun, Tutty sudah berdakwah menyiarkan agama Islam. Di bawah naungan Yayasan Perguruan As-Syafi’iyah yang didirikan tahun 1933 oleh ayahnya KH. Abdullah Syafi’ie, Tutty membangun Pesantren Putra-Putri dan Yatim, Pesantren Tinggi Darul Agama, Sekolah Tinggi Wiraswasta, serta Universitas Islam Syafi’iyah. 

Pengalamannya mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia layak dianugerahkan gelar doktor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah dan gelar profesor dari Federation Al Munawarah, Berlin Jerman.

Mantan Menteri Negara Peranan wanita dalam dua pemerintahan yang berbeda ini -Kabinet Pembangunan VII tahun 1998 jaman Soeharto dan Kabinet Reformasi Pembangunan jaman Habibie – adalah orang Betawi asli. Ia dilahirkan 30 Maret 1942 di Jakarta dari pasangan KH. Abdullah Syafi’ie dan Hajjah Rogayah. Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam, pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama, dan Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.

Mubaligah kondang dan Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah ini mempunyai visi bahwa perempuan Indonesia adalah pilar bangsa. Kemampuan intelektualnya dan banyaknya jam terbang menjadi pembicara dan penceramah di berbagai kota di 5 benua, hanyalah sedikit bukti bahwa perempuan memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan laki-laki dalam berkarya di berbagai sektor bagi bangsa ini. Ia pernah diundang pemerintah Amerika Serikat tahun 1984 untuk bertemu dengan para tokoh dari berbagai agama, tokoh-tokoh pendidik dari perguruan tinggi, tokoh-tokoh wanita, dan mengunjungi lembaga-lembaga sosial dan keagamaan.

Ia merupakan pendiri banyak organisasi dan institusi Islam di Indonesia. Ia pernah bergabung di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), MUI (Majelis Ulama Indonesia), CIDES (Center For Information And Development Studies), dan organisasi lainnya.

Dalam usia yang masih muda, Tutty sudah banyak mengukir prestasi yang mengagumkan. Pada usia 7 tahun, ia sudah lancar membaca Al-Quran. Kemudian di tahun 1951 ketika usianya 9 tahun, ia mendapat kesempatan membaca Al-Quran di Istana Negara di mana saat itu, BKOI, sebuah organisasi Islam, mengadakan acara pertama pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Presiden Soekarno. Pada saat itu ia sudah dikenal sebagai qori’ah cilik yang sudah sering menyanyikan lagu qasidah mulai dari di depan kelas, acara pernikahan hingga mendampingi ayahnya mengajar di masjid-masjid terdekat di sekitar Jakarta.

Kemahiran Tutty dalam membaca Al-Quran lengkap dengan tajwid dan lagunya tidak lepas dari ajaran ibunya tercinta, H. Rogayah, seorang ustadzah dan qoriah. Tutty kecil kebagian peran membaca beberapa ayat suci Al-Quran di kala ibunya sedang mengajar di kampung-kampung. Kemampuannya menulis tulisan Arab Melayu (huruf Jawi) juga didapat dari ibunya. Sekedar iseng sambil mengasah kemampuan, ia dan kakaknya, H. Muhibbah mendengarkan lagu di radio seperti penyanyi Lagu KeroncongBengawan Solo, Hanya Engkau, Sepasang Mata Bola, dan lagu melayu lainnya, lalu mereka berlomba siapa yang lebih dulu selesai menulis syair lagu tersebut dalam tulisan Arab Melayu.

Menginjak kelas dua di Madrasah Islamiyah, Tutty masuk ke Sekolah Rakyat. Meskipun ayahnya keberatan, Tutty tetap bersikeras untuk bersekolah di sana karena melihat sepupunya yang lebih tua dua tahun darinya sudah bersekolah di sana. Akhirnya, Tutty bersekolah di dua tempat, Sekolah Rakyat dan Madrasah.

Di sekolah, Tutty menjadi siswa yang baik dan berprestasi. Pernah suatu kali, Tutty yang bercita-cita bisa naik haji ini mendapat hadiah arloji karena prestasinya di sekolah. Walaupun begitu, sama seperti layaknya anak kecil yang ingin bermain dan terkadang nakal, Tutty dan sabahatnya, Rinjani yang tinggal di Bukit Duri, iseng-iseng bersepeda hingga ke Kemayoran dan pernah tersesat sampai ke Kebayoran Lama. Tutty dan Rinjani sering jalan bersama, bermain kasti dan olah raga lari.

Tahun 1951, 40 hari setelah kedua orang tuanya kembali ke Indonesia dari tanah suci, ibunda tercinta, H. Rogayah, meninggal dunia. Kesepian dan kesedihan yang dialaminya ia lewati dengan kesibukan yang semakin bertambah. Ia mulai dikenal dan diundang membaca Al-Quran dimana-mana, menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota, memberikan kursus-kursus, dan berceramah di depan umum.

Setahun setelah kepergian ibunya, di usianya yang ke 10, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran. Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya, bersepeda bonceng membonceng ke rumah Ibu Halimah untuk mengajar dan mendapat upah beberapa rupiah yang kemudian mereka bagi dua.

Pengalamannya memberikan kursus ternyata tidaklah sia-sia. Di usia 13 tahun, Tutty mulai mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi’iyah, diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Al-Quran, dengan murid 200 orang lebih, Kursus Umahat As-Syafi’iyah, khusus untuk ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini terus berlanjut hingga 1980. Tiga tahun kemudian, tahun 1958, kakaknya H. Muhibbah meninggal dunia. Sejak itu, ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi’iyah dan melanjutkan pengajian setiap Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.

Cita-citanya agar bisa keluar negeri akhirnya kesampaian juga. Melihat bakat Tutty dalam berpidato, membaca Al’Quran, dan mendendangkan lagu-lagu qasidah, sang ayah mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia tahun 1959. Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang. Di Singapura pulalah ia mendapat pengalaman pertama yang tak terlupakan dimana ia terpaksa berceramah di depan umum tanpa teks karena naskah ceramahnya ketinggalan. Pengalaman ini menjadi titik balik, dimana dalam ceramah-ceramah selanjutnya ia tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau pidato resmi. Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah dan Abdullah Syafi’ie.

Di Singapura ia melihat wanita tampil dengan baik dalam segala peran kehidupan, baik muda ataupun tua. Mereka memimpin sekolah seperti ustadzah Saadah Suhaimi di Ipoh Lane. Wanita-wanita Islam berbahasa Inggris, berpakaian trendy, menyetir mobil sendiri, bekerja di luar, punya organisasi yang mapan. Ia melihat di sana seperti tidak ada hambatan untuk maju dan berkarier. Melihat hal ini, ia tertarik ingin menerapkannya kepada kawan-kawan dan murid-muridnya di Indonesia.

Langkah awalnya adalah dengan memodifikasi baju muslim. Ia terapkan baju dua helai atas bawah dengan berbagai variasi kancing dan belah samping, karena ia tidak mau terikat dengan baju berkain panjang. Baginya, pengalaman di Singapura ini membuka beberapa tali belenggu sempitnya pemikiran terhadap peluang-peluang kemajuan untuk wanita terutama wanita Islam yang ingin tampil dalam berbagai kesempatan dan kegiatan.

Di Malaysia, ia berdakwah di Johore Baru dan Muar serta Batu Pahat. Saat itu ia mendapat kehormatan besar karena diundang oleh isteri Sultan Johore. Di Masjid Abu Bakar yang megah, ia memberikan acara lengkap, sejak dari bacaan Al-Quran, ceramah, dan ditutup dengan beberapa lagu qasidah serta puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Dua Permaisuri Agung Malaysia bahkan pernah berkunjung ke Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah tahun 1984 dan 1986. Hingga kini, Tutty masih sering diundang untuk berdakwah di Malaysia Barat dan Timur.

Selain berdakwah, masa remajanya juga diisi dengan menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota. Beberapa puisinya seperti Santri, Pesantren, Ulama dan Nafiri Ilahi diterbitkan oleh koran Minggu Abadi dan Berita Minggu. Usahanya dalam menerjemahkan ayat Al’Quran ke dalam bentuk puisi membuahkan hasil. Puisinya berjudul Yusuf yang Agung menjadi puisi terbaik versi RRI tahun 1960, dimana penyelenggaranya adalah Abdul Muthalib, pengasuh rubrik “Tunas Mekar”. Kebetulan waktu itu, ia sering diajak oleh Sdr. Mahbub Junaidi, seorang penulis sastra, mengisi acara di situ.

Di tahun yang sama, Tutty menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai 5 orang putra-putri. Walaupun ia menikah di usia yang masih muda (18 th), dan masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk, Tutty dapat mengurus keluarganya, seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya dan berhasil meraih kesarjanaan dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tahun 1963 ia mulai memperkenalkan seni qasidah di TVRI. Salah satunya adalah dengan menampilkan pelajar-pelajar menyanyikan koor lagu-lagu As Syafi’iyah yang ia ciptakan sendiri. Lagu-lagu ciptaannya direkam ke kaset atas bantuan seorang Qori, almarhum H. Muhammadong. Sedangkan kaset ceramah direkam di Radio As-Syafi’iyah. Sebuah radio yang kemudian dirintisnya tahun 1967. Radio ini menyajikan program Santapan Rohani Pagi, Berita Pagi, Dunia Selintas Kilas, Renungan Malam, Varia As-Syafi’iyah, Pilihan Pendengar. Di Bulan Ramadhan dibuat program khusus bernama Renungan Sahur yang dibawakan oleh Tutty selama 17 tahun sejak tahun 1968-1985. Kaset ceramahnya saat itu laku keras di pasaran Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Dalam rangka merayakan ulang tahun As-Syafi’iyah tahun 1968, Tutty mengadakan acara besar di Stadion Utama Senayan yang dihadiri sekitar 60.000 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun, 1970-1980, As-Syafi’iyah yang dipimpinnya dipercaya untuk menangani kegiatan-kegiatan besar seperti pembukaan MTQ V tahun 1972. Saat itu, As-Syafi’iyah mengerahkan hampir 6.000 orang, terdiri dari 2.500 pemain rebana, 2.000 senam indah, dan drum band yang ditangani oleh sebuah organisasi rebana bernama LASQI (Lembaga Seni Qosidah Indonesia), sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Tutty dan kawan-kawan.

As-Syafi’iyah juga memperoleh kesempatan menjadi penanggungjawab acara perpisahan dengan Gubernur DKI Jakarta H.
Ali Sadikin dan telah 3 kali mengadakan acara BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) di Stadion Utama yang dihadiri lebih dari 140.000 orang pada tahun 1991, 1995 dan 1999. Majelis taklim pada mulanya lahir dari pengajian di Masjid Al-Barkah yang dikelola K.H. Abdullah Syafi’ie.

Sedangkan BKMT adalah sebuah organisasi yang berdiri tahun 1981 atas prakarsa As-Syafi’iyah dengan mengundang pengurus-pengurus Majelis-Majelis Taklim Se-Jabotabek untuk bermusyawarah di Pesantren As-Syafi’iyah. Pertemuan itu dihadiri lebih dari 1500 pimpinan Majelis Taklim yang mewakili 798 Majelis Taklim se-Jabotabek. Di usianya yang lebih dari dua dekade, BKMT sudah tersebar di 22 propinsi seluruh Indonesia dengan jutaan anggota dan belasan ribu majelis taklim.

Saat As-Syafi’iyah genap berusia 50 tahun, Masjid Al Barkah diperluas dengan membebaskan sekitar 16 rumah di sekitar masjid. Demi pembangunan ini, Tutty merelakan rumah dan tanahnya yang sudah didiami selama 23 tahun untuk dirobohkan pada bulan Desember 1983. Ia lalu membangun rumah kecil yang tidak jauh dari tempat tersebut.

Ketika pembangunan besar-besaran baru mencapai 50%, KH. Abdullah Syafi’ie meninggal dunia tanggal 3 Nopember 1985. Saat itu, seluruh masyarakat As-Syafi’iyah, masyarakat Betawi, seluruh jamaah dan pelajar dan pendengar setia radio berkabung. Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam, pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama, dan Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.

Hingga kini, Tutty masih terus berkarya meneruskan pesan ayahnya agar ia hidup berguna bagi masyarakat, kaum duafa dan wanita, terjun dalam bidang dakwah, sosial dan pendidikan. Karena perhatiannya yang besar terhadap kaum
perempuan, berbagai dukungan dan simpati masih terus berdatangan. Itu terbukti dari dukungan sekitar 600 anggota majelis taklim se-Jabotabek menggelar aksi di DPRD DKI Jakarta menuntut agar Tutty – yang diajukan oleh Fraksi
Golkar – bisa menduduki kursi Gubernur DKI periode 2002-2007.

Terakhir, April 2003 yang lalu, Tutty sebagai Ketua International Moslem Women Union (IMWU) untuk Indonesia menggelar kongres organisasi internasional ini di Jakarta. Kongres yang melibatkan wakil perempuan dari 87 negara ini membahas isu seputar pemberdayaan wanita dan peran wanita dalam perdamaian dunia.  Selamat jalan Ustadzah, semoga Allah menerima amal ibadah Ustadzah, amiin [FR]

Sumber : tokohindonesia.com

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …