Home / Berita Umat / Obsesi Parmusi Membangun Indonesia Madani

Obsesi Parmusi Membangun Indonesia Madani

Kapal besar bernama Parmusi sudah membentangkan layarnya. Ekspidisi para dai siap mengemban misi suci. Obsesi Parmusi menjadikan Indonesia negeri yang Madani terus dinanti. Berikut ulasan jelang Jambore Nasional Dai Parmusi 2018.

SUARAMASJID| Jakarta–Bukan Parmusi kalau tidak berobsesi dan bikin sensasi. Parmusi, ormas Islam yang memiliki kepanjangan kalimat Persaudaraan Muslimin Indonesia ini kerap tampil di depan untuk gerakan dakwah Islam di Indonesia.

Sensasi Parmusi kali ini adalah gelaran akbar yang akan melibatkan ribuan dai Parmusi di penjuru nusantara untuk mengikuti puncak konsolidasi yang dikemas dalam kegiatan Jambore Nasional Dai Parmusi pada 24-27 September 2018 di Gunung Gede Pangrango Cibodas, Cipanas, Jawa Barat.

Sebelumnya, sensasi Parmusi sebagai gerakan dakwah telah ikut memperjuangkan pencopotan Basuki Tjahaja Purnama dari kursi gubernur DKI Jakarta karena menghina ayat suci al-Qur’an. Melalui laskarnya, Parmusi selalu di garis depan menyuarakan kebenaran.

Parmusi juga menggelar berbagai advokasi terhadap permasalahan umat seperti masalah RUU anti LGBT, anti Miras. Begitu juga soal internasional seperti bantuan untuk Muslim Rohingya, Palestina dan lain sebagainya.

Parmusi yang menisbatkankan dirinya sebagai gerakan dakwah terus membangun menguatkan simpul-simpul para dai Parmusi yang ada di penjuru negeri. Untuk itu, tahun 2018 ini akan menjadi puncak konsolidasi para dai Parmusi.

Secara tegas Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) H. Usamah Hisyam mengatakan bahwa tahun 2018 merupakan tahun puncak konsolidasi ormas yang dipimpinnya guna mewujudkan dakwah sebagai sebuah gerakan.

Usamah menambahkan, konsolidasi ini merupakan bagian penting dari rentetan kegiatan selama tiga tahun Parmusi melakukan transformasi paradigma, dari political oriented menuju dakwah oriented.

“Puncak konsolidasi ini akan ditandai dengan Jambore Nasional Dai Parmusi pada September 2018 mendatang,” ungkapnya saat membuka Silaturahim Idul Fitri 1439 H dan Rakornas Jambore Nasional Dai Parmusi di Hotel Mercure Jakarta, Jumat (6/7).

Jambore Nasional Dai Parmusi ini bertepatan dengan hajatan akbar bangsa Indonesia yang sedang sibuk menghadapi tahun politik, baik Pilkada serentak maupun tahapan Pileg dan Pilpres 2019. Namun demikian, Usamah mengimbau agar para kader tidak risau. Sebaliknya, seluruh kader Parmusi harus yakin bahwa paradigma baru ini merupakan jalan lurus.

“Saya persilakan kader Parmusi yang hendak melanjutkan karier politiknya. Teruslah berjuang di jalur politik dengan membawa misi dakwah, sementara Parmusi sebagai ormas Islam akan berpolitik melalui jalur dakwah,” tegas Usamah.

Keteguhan Usamah sebagai nahkoda Parmusi ini ingin mewujudkan cita-cita pendiri Masyumi, Mohammad Natsir, di era 1960-an. Di mana saat itu Mohammad Natsir mengatakan, “Kalau dulu kita berdakwah melalui politik, sekarang kita berpolitik melalui jalur dakwah,” tiru Usamah.

Kendati demikian, Usamah menegaskan Parmusi secara institusi tak lagi melakukan kegiatan politik praktis (day to day pilitics) seperti periode sebelumnya, tetapi kader-kader Parmusi secara individu diperkenankan menjadi kader politik sesuai dengan aspirasinya.

Bagi Usamah, perjuangan politik melalui jalur dakwah ini akan memperkuat esensi dari tujuan politik itu sendiri, yakni membangun kekuasaan yang islami. “Nabi Muhammad telah mencontohkannya. Beliau berdakwah dan akhirnya mampu membangun pondasi yang kuat bagi lahirnya sebuah negara, Madinah Al-Munawarah, hingga kemudian mampu mengubah peradaban dunia,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris Panitia Jambore Nasional Dai Parmusi Nurhayati Payapo, yang juga Ketua Umum Muslimah Parmusi menjelaskan bahwa Jambore para dai ini untuk menjalin ukhuwah para dai Parmusi dari berbagai daerah. “Kami juga akan memberikan bekal manhaj dakwah Desa Madani kepada para dai sebelum melaksanakan ekspedisi dakwah ke berbagai pelosok tanah air,” jelasnya.

Nurhayati menambahkan, pasca Muktamar III Batam Maret 2015 lalu, yang berhasil melahirkan regenerasi kepemimpinan Parmusi dari Bachtiar Chamsyah dan Imam Suhardjo selaku Ketua Umum dan Sekjen periode sebelumnya (2008-2015) kepada duet kepemimpinan Usamah Hisyam dan Abdurrahman Syagaf (2015-2020), wajah Parmusi mengalami perubahan yang drastis.

Perubahan itu ditandai dengan hasil Mukernas I Parmusi pada September 2015 lalu yang memutuskan perubahan paradigma baru Parmusi dari sebelumnya political oriented menjadi dakwah oriented.

“Parmusi tak lagi menjadi ormas eksklusif yang hanya menyiapkan kader-kader politik umat yang disalurkan melalui PPP, tetapi sudah mencanangkan tagline sebagai connecting muslim yang mempersiapkan kader-kader untuk berdakwah,” tuturnya.

Dari Desa Madani untuk Indonesia

Sejak H. Usamah Hisyam mendapatkan amanah untuk membawa kapal besar Parmusi ini menunjukkan konsistensi sikapnya dalam gerakan dakwah. Terutama pasca Mukernas I akhir 2015, Parmusi mendirikan Lembaga Dakwah Parmusi (LDP).

Untuk memuluskan program dakwahnya ini, Usamah kemudian mengajak mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), KH. Syuhada Bahri untuk menjadi Ketua LDP. Sosok Ustadz Syuhada yang tak asing di dunia dakwah menjadikan LDP bergerak maju dengan program dakwahnya.

Di bawah binaan Kiai Syuhada Bahri, derap dakwah Parmusi mulai terasa denyutnya. Gayung bersambut, perpaduan kepemimpinan Usamah yang memiliki kemampuan manajerial serta kepemimpinan Kiai Syuhada Bahri yang piawai dalam konten dakwah, memacu program Parmusi yang menjadikan dakwah sebagai suatu gerakan berjalan cepat.

Usamah berobsesi, pada tahun 2020 nanti, kapal besar berbendera Parmusi yang ia nahkodai ini bisa memiliki 35.000 dai yang tersebar di 70.000 kecamatan di seluruh Indonesia. Obsesi ini pun ia elaborasikan dalam program Pembangunan Desa Madani melalui One District Five Dai, Satu Kecamatan Lima Dai.

Pembangunan Desa Madani ini merupakan hasil keputusan dari Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Parmusi yang dihadiri pimpinan-pimpinan Pengurus Wilayah (PW) Parmusi seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Aston Jakarta, Jumat (12/1) lalu.

“Hasil Rakornas ini yang melanjutkan kembali pembangunan Desa Madani makin mempertegas posisi Parmusi sebagai Ormas Islam yang bergerak di bidang dakwah, sosial, ekonomi, dan pendidikan,” paparnya.

Usamah menjelaskan, Desa Madani adalah program Parmusi membangun sebuah komunitas masyarakat desa yang islami lahir dan batin melalui dakwah para dai yang memiliki kemandirian ekonomi, peduli terhadap pemberdayaan sosial, serta kualitas pendidikan umat.

Karena itulah, Parmusi memutuskan merekrut kembali dai-dai di tingkat kecamatan yang diarahkan untuk mendukung program Desa Madani. “Program one district five dai kembali kita galakkan. Tidak ada maksud lain, selain untuk menegakkan izzul islam wal muslimin yang dimulai dari desa. Kami mohon dukungan dan doa restu umat Islam,” harapnya.

Seiring berjalannya perjuangan dakwah ini, setelah bergerak ke berbagai daerah, Parmusi telah memiliki lebih dari 5.000 dai yang tersebar di penjuru Nusantara. Sebagai langkah awal dari obsesi dakwahnya ini, Usamah mengundang para dai Parmusi di kegiatan Jambore Nasional Dai Parmusi tanggal 24-27 September 2018 di Gunung Gede Pangrango Cibodas, Cipanas, Jawa Barat, sekaligus menyongsong Milad ke-19 Parmusi yang jatuh pada 26 September 2018.

Dalam Jambore Nasional Dai Parmusi ini, Usamah juga akan mencanangkan Gerakan Nasional Dakwah Parmusi, yang akan dilanjutkan dengan ekspedisi dakwah para dai ke seluruh pelosok tanah air. Kapal Parmusi pun siap berlabuh menjalankan misi suci mewujudkan obsesi membangun negeri menjadi Indonesia yang Madani. InsyaAllah.[]

Oleh: Fathurroji NK

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 0817-19-5001 Terima kasih

Check Also

Pernyataan Lengkap Habib Rizieq Terkait Fitnah Sarang ISIS di Mekkah

SUARAMASJID| Mekkah–Menyikapi maraknya simpang siur berita di tanah air, Habib Rizieq Shihab menyampaikan klarifikasi resmi …

Translate »