Home / Catatan Jumat / Menjaga Marwah Ulama untuk NKRI

Menjaga Marwah Ulama untuk NKRI

Catatan Jum’at, 27 Januari 2017

Oleh: Fathurroji NK

SUARAMASJID.com| JUMAT, 27 Januari 2017. Dua pekan lalu, tepatnya pada Kamis, 12 Januari 2017 sekitar pukul 10.00 waktu setempat, di Bandara Susilo Sintang Kalimantan Barat digegerkan oleh ulah puluhan Pemuda Dayak dengan memakai pakaian adat, bersenjata tajam serta membentangkan spanduk bertuliskan ‘FPI Ormas Anti Pancasila dan UUD 1945 Harus Dibubarkan’.

Terlepas dari penjagaan bandara yang katanya super ketat yang juga telah diatur dalam peraturan kementerian perhubungan tentang keamanan bandara, ternyata masih ada segerombolan orang dengan senjata tajam bisa memasuki apron bandara Sintang. Bahkan kedatangan mereka menghadang salah seorang ulama terkenal yang sekaligus Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Tengku Zulkarnain.

Nampak jelas, di poto-poto dan video yang beredar di dunia maya, bahwa mereka mengancam menolak kedatangan Ustadz Tengku saat akan mengisi ceramah di wilayah Sintang. Padahal, kapasitas Ustadz Tengku memenuhi undangan dari Bupati untuk tabligh akbar Maulid Nabi di Masjid Agung.

Ironis, yang jelas bukan spontanitas alasan Pemuda Dayak ini melakukan penghadangan terhadap Ustadz Tengku, jika melihat dari spanduk yang dibawa mereka bertuliskan ajakan pembubaran ormas FPI itu butuh proses dan tidak bisa serta merta spanduk jadi di apron bandara. Alasan lain karena statemen Ustadz Tengku terkait warga dayak, yang konon menyinggung warga dayak.

Menurut penulis, keputusan Ustadz Tengku untuk tidak turun dari pesawat merupakan keputusan yang tepat dan bijak. Artinya, beliau berpikir ke depan yang mengedepankan mashalahat umat. Bisa saja, kalau  Ustadz Tengku mau turun dan menghadapi para pemuda Dayak itu. Bagi Ustadz Tengku, mati berdakwah adalah syahid, dan itu yang diharapkan banyak ulama. Namun beliau bersabar dan mengalah untuk tidak turun dari pesawat.

Bisa dibayangkan, jika Ustadz Tengku turun dari pesawat kemudian para pemuda dayak mengeroyok dan menyerang, lalu terjadilah konflik yang tidak imbang karena satu orang tanpa senjata dikeroyok puluhan pemuda berenjata. Bila ini terjadi, saya yakin reaksi umat Islam di negeri ini akan bisa menimbulkan konflik yang lebih besar lagi karena ulama diganggu. Terlebih lagi semangat Aksi 212 masih membuncah dalam diri umat Islam. Memang, pasca Aksi 212, beberapa ulama yang tergabung dalam GNPF-MUI sedang dalam bidikan.

Dalam sebuah ceramahnya di Masjid Asy Syarif Bumi Serpong Damai (BSD) Ustadz Tengku menjelaskan, kondisi zaman kini persis seperti era tahun 1964, yaitu era munculnya pemberontakan PKI, banyak penghinaan terhadap ulama dan umat Islam. Dalam sejarah banyak ulama-ulama besar yang dipenjara waktu itu, mulai dari Buya Hamka, Muhammad Natsir, dsb. Besar pengorbanan ulama untuk menjaga agama dan umat. Orang-orang tersebut yang terus dikenang sampai kini melalui kiprahnya.

“Para ulama wakil umat ini tidak digaji, mereka hanya diberi uang transport kalau ada pertemuan, mereka meng-ikhlas-kan diri untuk mengurus umat,” katanya.

Ustadz Tengku mengatakan, di sosial media banyak sekali pihak yang menista dan menggerakkan untuk menista ulama dan MUI, banyak akun-akun palsu, sehingga yang beredar opininya lebih banyak yang jelek akhirnya. Lalu apakah kita berdiam diri saja, walau hanya untuk sekedar membela yang benar? Ada kewajiban kita sebagai umat Islam untuk menyatakan kebenaran, karena itu bagian dari keimanan.

“Di setiap masa memang diciptakan golongan yang gemar mencela agama, ulama, dipelopori orang-orang bertitel cendekiawan, ataupun profesor sekalipun. Jangan sampai tertipu,” kata Ustadz Tengku.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin menegaskan, kasus dugaan penistaan agama, ulama, al Quran merupakan masalah serius dan mengancam kehidupan berbangsa dan keutuhan NKRI.

Din menegaskan bahwa ini masalah besar, serius dan sangat sensitif. Bisa mengganggu dan mengoyahkan sendi-sendi kehidupan nasional kita di negara yang berdasarkan bhineka tunggal ika.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menjelaskan, Dewan Pertimbangan MUI berkepentingan menjaga kesejukan umat dan kerukunan masyarakat. Sehingga penistaan agama dan ujaran kebencian telah menimbulkan reaksi yang luar biasa dari rakyat dan umat di seluruh penjuru Tanah Air.

Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Habib Rizieq Syihab mengungkapkan bahwa ulama GNPF-MUI sedang dicari-cari kesalahannya untuk ditangkap.

Habib Rizieq saat berceramah di Masjid Al-Azhar Jakarta Selatan, Senin (16/01/2017) lalu mengatakan, “Semua tokoh GNPF sedang dibidik, ceramahnya sedang dicari kesalahannya untuk menangkap ulama kita,” katanya.

Lebih lanjut, Habib Rizieq menjelaskan kondisi tersebut bisa umpakan ibarat semut yang lewat di hadapan polisi. “Kondisi saat ini maaf. Andai kata semut lagi lewat ditanya polisi, ‘Kamu diinjak nggak sama GNPF?’ Kalau semut menjawab, ‘Saya diinjak oleh GNPF.’ Polisi pun mengatakan, ‘Lapor, lapor, lapor!’,” katanya.

Sementara itu Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan akan selalu menjaga ulama. “Tidak akan kita relakan sedikit pun, jangankan satu nyawa, satu tetes darah ulama pun tidak akan kami biarkan di tangan mereka,” ujarnya di depan jamaah Aksi Bela Ulama, Senin (16/1/) di Jakarta.

“Saya yakin akan lahir Abu Thalhah-Abu Thalhah baru di sisi Rasulullah yang mana kata Rasulullah pada Perang Uhud, suaranya Abu Thalhah bahkan mengalahkan 100 laki-laki pada masanya. Ia berkata, “Ya Rasulullah, tidak akan aku biarkan satu pedang pun menyayat dirimu,” ujarnya.

Ustaz Bachtiar menyayangkan kenapa tidak pernah berhenti keributan. Ia menyatakan umat Islam tidak pernah menginginkan keributan dan kegaduhan. Namun atmosfernya yang seakan terus meyeret umat untuk bangkit.

“Misalnya ada orang yang ingin menistakan kembali kesepakatan bangsa agar menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai ideologi Negeri ini. Namun justru ada yang ingin mengubahnya dan mensejajarkannya dengan kebudayaan, kemudian ditempatkan lebih rendah sebagai ketuhanan kebudayaan. Tapi tidak akan kami biarkan hal itu terjadi karena mutlak bahwa bangsa ini berketuhanan yang Maha Esa,” tegasnya.

Sebagai umat Islam sudah kewajiban kita untuk ikut serta dalam melindungi ulama, ulama adalah benteng umat Islam di Indonesia. Karena ulama adalah pewaris para nabi. Bila ulama dikerdilkan perannya, dihalangi langkahnya dalam berdakwah maka ini sebagai sinyal kedhaliman di muka bumi ini.

Untuk itu, Aksi Bela Ulama yang beberapa hari mencuat harus menjadi pemantik umat Islam terus menjaga marwah para ulama di negeri ini. Hadirnya ulama telah menjadikan negara ini merdeka, peran dan perjuangan ulama telah membebaskan Indonesia dari tangan penajajah. Ulama adalah penjaga NKRI.

Mari kita dukung dan kawal ulama kita, kalaupun tidak bisa mendukung secara fisik, mari kita dukung dengan doa-doa kita dalam setiap waktu. Karena ulamalah yang akan menjadi penyeimbang kehidupan di dunia yang kian sengkarut ini. Umat Islam harus menjaga para ulama, kalau bukan umat Islam, siapa lagi? #SaveUlama.

 

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Simpel, Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku

 Oleh: Fathurroji NK SUARAMASJID.com| JUMAT, 23 Desember 2016. Tertanggal 14 Desember 2016, Majelis Ulama Indonesia …