Home / NETIZEN KAMPUS / Mengenal Dakwah Tanpa Ilmu

Mengenal Dakwah Tanpa Ilmu

Oleh: Vipin Yuliyanti (Mahasiswi STEI SEBI Semester 5)

SUARAMASJID| Dakwah adalah proses atau kegiatan menyampaikan dan mengajak yang di lakukan oleh segolongan manusia pada manusia lainnya, guna melakukan kebaikan dengan keikhlasan hati, sehingga nantinya dapat membangkitkan dan mengembalikan potensi fitri yang terdapat pada orang tersebut, juga dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Agama Islam sendiri telah menjelaskan bahwa dakwah merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada para pemeluknya, yang berisi seruan kepada keinsyafan, atau mengubah situasi buruk kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas.

Ketidaktahuan seseorang akan dakwah yang sebenarnya, bukan berarti Islam tidak ada di tengah-tengah masyarakat tersebut. Hal ini sudah menjadi lumrah di kalangan masyarakat, bahkan para da’i dan da’iah memaklumi dan paham betul akan kondisi tersebut. Oleh karena itu, mereka sebagai contoh untuk masyarakat yang memahami dengan baik, menanggapinya dengan sikap lemah lembut, kesabaran, toleran, ikhlas karena Allah serta senantiasa berbuat kebaikan sebagai bentuk dakwah para da’i dan da’iah. Ini adalah PR bagi semua umat Islam di era yang semakin modern dan maju ini, sebagai generasi selanjutnya kita semua harus membuat, menata, memiliki dan menerapkan konsep dakwah yang dapat di terima oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

Tak sedikit masyarakat yang mengenal dakwah namun tanpa di ikuti oleh ilmu. Padahal dakwah menurut sebagian orang merupakan salah satu penguat iman, lalu apa jadinya apabila iman seseorang tanpa di dasari ilmu? Menurut Ustadz Gani Isa (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry), “Ilmu pengetahuan yang kita kuasai tanpa akhlak dan adab sebagai penuntunnya, akan membawa pada kesombongan, dan ilmu tanpa agama akan membawa pada kehancuran dan murka Allah di dunia dan akhirat.”

Lalu mengapa dakwah sulit di terima bagi sebagian golongan? Karena mereka mempunyai anggapan bahwa pemikiran dan ajaran yang mereka dapat dari sebagian golongan itu adalah yang paling benar hakikatnya, sehingga tidak menerima masukan-masukan yang lain yang di sampaikan da’idan da’iah lainnya. Padahal Allah SWT telah menjelaskan dalam Q.S. An Nisa’ : 94, “Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat Nya atas kalian, maka telitilah”. Jelas, maksud kata “Teliti” disini menunjukan bahwa umat Islam harus dapat menyaring pesan atau ilmu yang berbau Islami dengan baik dari keseluruhan golongan, bukan berarti hanya menerima satu informasi dari satu pihak saja sehingga mengabaikan informasi yang (mungkin saja) lebih penting dari beberapa pihak lainnya.

Ustadz Hasan Al Banna pernah menyatakan, “Jika di hadapanmu ada sejumput gula pasir dan sejumput garam, bagaimana Anda dapat membedakannya? Saya akan mengatakan, ‘Saya harus mencicipi keduanya, karena dengan mencicipinya kita dapat membedakannya.'”. Dengan ini, dapat di simpulkan bahwa dakwah harus di rasakan pahit manisnya, tidak hanya sekedar dilihat oleh sudut pandang manusia saja atau menduga-duga. Namun, apabila seseorang belum atau tidak merasakannya terlebih dahulu, maka patut di maklumi untuk kemudian di beri tahu tentang dakwah yang sesungguhnya.

Hiruk pikuk yang mengaung di seluruh kalangan masyarakat memaksa para Ulama untuk berdiri tegak guna membenahi jiwa dan hati umat Islam. Namun, hal ini justru menjadi tantangan sendiri bagi para Ulama di negara yang mayoritas Muslim ini. Banyak fitnah bersebaran di media sosial untuk menghancurkan agama Islam dan umat Islam yang di telan pahit oleh masyarakat, sehingga masyarakat yang tidak tahu dakwah tanpa ilmu akan mudah menerimanya bahkan bergerak ke arah yang tidak seharusnya. Dan dari sini lah, tugas besar kita di mulai, dengan mempelajari dakwah dengan ilmu dan mengaplikasikan ke dalam kehidupan.

Sesungguhnya, misi seorang da’i atau Ulama di tengah kegelapan adalah menyalakan lilin, menuntun si buta, memperdengarkan yang tuli, mengemban beban, memberi makan yang lapar, tawadhu’, dan kasih sayang kepada semua muslim. Wallahu a’lam

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Cinta Itu Ikhlas, Bukan Enggan Melepas

Oleh: Nurul Ulfi (Mahasiswi STEI SEBI) Pada Dasarnya kita sebagai manusia pasti memiliki Cinta. Sejatinya …

Translate »