Home / NETIZEN KAMPUS / Menarik Hati dalam Sebuah Mentoring

Menarik Hati dalam Sebuah Mentoring

Oleh: Nurul Ummah (Mahasiswi STEI SEBI Semester 5)

SUARAMASJID| Istilah mentoring barang kali sudah tidak terdengar asing lagi dikalangan kita. Terutama dikalangan anak-anak rohis.Mentoring atau istilah lain dari pembinaan sudah jamak dilakukan di sekolah sebagai bekal mendalami agama Islam.Bahkan di beberapa sekolah, mentoring menjadi salah satu eskul pilihan.Seiring berjalanya waktu mentoring mengalami perkembangan, pesertanya mengalami perubahan tidak hanya sekedar dari kalangan rohis saja tetapi mulai meluas dari luar rohis.

 Melihat perkembangan ini perlunya mempersiapkan murobbi-murobbi yang mampu membawa mad’u-mad’u nya menjadi kader dakwah yang iltizam. Murobbi adalah orang yang memimpin jalannya halaqqah (pengajian kelompok, mentoring, usroh, ta’lim dan sejenisnya). (Satria Hadi Lubis) . Sedangkan mutarobbi atau mad’u adalah peserta mentoring atau orang yang dibina oleh murobbi. Menjadi murobbi tentu bukanlah suatu perkara yang mudah, ada beberapa murobbi yang sukses tapi banyak pula murobbi yang gagal. Hal ini lah yang menjadi faktor ustadz Satria Hadi Lubis menciptakan buku yang berjudul Menjadi Murobbi Sukses. Harapan penulis dengan adanya buku tersebut adalah dapat membantu pembaca khususnya yang ingin menjadi murobbi sukses.

Dalam buku yang berjudul Menjadi Murobbi Sukses karangan Satria Hadi Lubis terdapat 114 tips beliau memaparkannya dalam 10 bagian yaitu: (1) Tips persiapan, (2) Meningkatkan kredibilitas dan wibawa, (3) Menarik simpati mad’u, (4) Memahami mad’u, (5) Menumbuhkan solidaritas, (6) Meningkatkan disiplin, (7) Memberikan tugas, (8) Meningkatkan Ruhiyah,(9) Mendinamiskan sistem halaqah, (10) Dan lain-lain. Bagian utama dalam buku ini yaitu tips persiapan. Persiapan tersebut dari segi meluruskan niat, kemudian menyiapkan materi yang akan dibagikan kepada mad’u, menyiapkan materi ini bukan hanya sekedar menyiapkan biasa saja melainkan diimbagi dengan menyiapkan materi cadangan, serta menyimpan dengan baik materi-materi yang ada supaya tidak kehabisan materti. Dan yang harus ditanamkan kepada murobbi-murobbi adalah belajar menjadi murobbi yang derajatnya lebih rendah dengan mad’u, sebagaimana dalam firman Allah ‘azza wa jalla yang memiliki arti “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS.26 : 215).

Disamping murobbi harus menpersiapkan, pentingnya murobbi untuk meningkatkan kredibilitas dan kewibawaan. Adapun tips yang diberikan Ustadz Satria Hadi Lubis adalah dengan memperbanyak ilmu pengetahun jika tidak ingin ditinggalkan oleh mad’u. Karena mad’u akan merasa bosan manakala pengetahuan yang diterimanya sama dari waktu ke waktu.Tips selanjutnya adalah dengan menambah pengalaman, semakin banyak jam terbang untuk mengajar maka akan semakin banyak pengalaman dalam membina mad’u. Dan sebagai murobbi jangan pernah bersikap sok tahu dalam menjawab pertanyaan mad’u,jika bersikap sok tahu sama saja menjerumuskan mad’u kepada jalan yang salah. Manakala iu terjadi maka kredibilitas murobbi akan jatuh dan kepercayaan mad’u terhadap jawaban murobbi dari pertanyaan yang lain nya akan diragukan.

Pada problematika dewasa ini seringkali yang saya temui bahwa kurangnya ketertarikan mad’u pada halaqah itu sendiri, ini yang menjadi pr bagi murobbi. Karena betapa pentingnya menarik simpati mad’u sehingga akan melahirkan daya tarik atau keinginan sendiri dari mad’u untuk tetep mengikuti halaqah tersebut.Seperti yang telah dipaparkan oleh Satria Hadi Lubis pada bagian tips menarik simpati mad’u ada beberapa tips yang mungkin bisa diterapkan oleh murobbi-murobbi saat ini, salah satunya adalah dengan tersenyum,“Rasulullah saw adalah orang yang paling banyak senyum dan tertawa dihadapan para sahabatnya, karena mengagumi pembicaraan mereka dan melibatkan dirinya dengan mereka.” (Imam Al Ghazali). Kemudian menjenguk mad’u ketika tertimpa musibah, “Siapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan maka Dia memberinya musibah”(HR. Bukhari Muslim). Selain itu bersilaturahmilah ke rumah mad’u agar lebih mengenal mad’u bagaimana kondisi rumahnya, keluarganya dan ia akan merasa diperhatikan. Ini hanya sebagian kecil tips yang dipaparkan ustadz Satria Hadi Lubis dalam bukunya.

Selain yang telah disebutkan diatas, ada metode-metode yang bisa diterapkan murobbi dalam menarik hati mad’u nya. Seperti yang dipaparkan ustadz Abbas As Siisy dalam buku Bagaimana Cara Menyentuh Hati. Beliau mengatakan bahwa cara bertutur kata dan penampilan seorang murobbi itu bisa menarik perhatian orang yang mendengar dan melihatnya. Mengapa? Karena manusia pada dasarnya cenderung tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Tentu yang dimaksud bukan hanya penampilan bagaimana cara berpakaian seorang murobbi, melainkan penampilan akhlak yang baik juga akan membuat orang yang memandang menjadi tertarik. Abbas As Siisy juga menyebutkan bahwa murobbi harus memandang mad’u nya dengan pandangan penuh kasih sayang. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa memandang saudaranta dengan kasih sayang niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”. Yang dimaksud dalam hadist ini ialah pandangan yang ditunjukan pada hati dan mengajak saudaranya dengan berbicara lemah lembut.

Pada dasarnya mengucapkan salam tidak sebatas kepada orang-orang terdekat atau yang dikenali saja, akan tetapi dianjurkan mengucapkan salam juga kepada orang yang belum kita kenali agar memperluas ukhuwah Islamiah. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu mau jika aku tunjukkan pada satu perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salalm di antara kamu!” (HR. Muslim). Dalam hal ini ketika seorang murobbi bertemu dengan mad’u nya maka ucapkanlah salam, jangan menunggu hingga hubungan dengan mad’u sudah erat. Alangkah lebih baiknya jika lebih dahulu mengucapkan salam, “Sebaik-baik kamu adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam”. Mengucapkan salam tentunya diiriingi dengan berjabat tangan, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, kecuali bagi mereka ampunan sebelum mereka berpisah”. Dan ketika memanggil mad’u panggillah dengan panggilan yang ia senangi, jika tidak maka khawatirnya akan menyakiti hati mad’u tersebut. Apabila mendapatkan seorang mad’u yang memiliki sifat tidak mengenakan maka bersabarlah dan balaslah dengan suatu kebaikan, “Akan tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perkataan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy syura : 43)

Apa yang telah disebutkan diatas itu hanya sebagian dari metode-metode yang bisa diterapkan murobbi untuk bisa menarik hati mad’u nya, tentu masih lebih banyak lagi metode yang lainnya. Karena bisa jadi untuk membina satu mad’u akan berbeda metode manakala membina mad’u yang lainnya. Seorang murobbi tentu tidak hanya terfokus dalam membina mad’u nya saja, tetapi sudah kewajiban bagi seorang muslim untuk juga mengupayakan menjadi muslim yang sejati. Terlahir menjadi seorang muslim jelas itu bukanlah hanya sekedar agama warisan. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam buku Menjadi Muslim Sejati yang ditulis oleh Fathi Yakan bahwa penggabungan diri dengan agama Islam bukanlah secara warisan, bukan secara hobi malah ia juga bukan penggabungan zahir saja. Sebenarnya penggabungan yang dimaksud ialah penggabungan dengan ajaran Islam itu sendiri dengan cara berpengang teguh dengan seluruh agama Islam serta menyesuaikan diri dengan Islam di segenap bidang kehidupan dengan penuh kerelaan.

Dengan adanya murobbi-murobbi yang berkompeten harapannya semoga dakwah Islamiyah akan sampai kepada umat dengan efektif dan efisien.[]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Cinta Itu Ikhlas, Bukan Enggan Melepas

Oleh: Nurul Ulfi (Mahasiswi STEI SEBI) Pada Dasarnya kita sebagai manusia pasti memiliki Cinta. Sejatinya …

Translate »