Home / Profil Masjid / Masjid Biasa / Masjid Luar Batang, Jadi Saksi Mualaf Cina
republika

Masjid Luar Batang, Jadi Saksi Mualaf Cina

Masjid Luar Batang (1739)

Bagi warga Jakata dan sekitarnya, nama Masjid Luar Batang sudah tidak asing lagi. Selain sebagai salah satu cagar budaya, Masjid Luar Batang juga memiliki sejarah yang menarik untuk disimak. Khususnya sejarah keteladanan pendirinya, yaitu Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al ‘Aydrus yang meninggal pada tanggal 24 Juni 1756.

Menurut buku catatan sejarah Hadramaut, Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus adalah keturunan Hadramaut yang hidup dalam kesederhanaan. Ia lahir dalam kondisi yatim piatu dan diasuh oleh seorang sufi yang alim. Pada usianya yang masih belia ia diutus gurunya hijrah ke Tanah Gujarat (India Utara) yang pada waktu itu tertimpa musibah kekeringan dan wabah penyakit.

Dengan izin Allah, Habib Husein berhasil mendatangkan hujan dan membawa kesehatan bagi masyarakat setempat. Sehingga atas jasa-jasanya itu Habib Husein diminta untuk menjadi pemimpin masyarakat sana, namun Habib menolak dengan alasan masih akan melanjutkan perjalanan ke Batavia.

Sampai di Batavia, Habib Husein singgah di sebelah barat mulut Ciliwung, ditengah bongkar muat barang kapal, dengan membangun sebuah surau kecil tempat pengabdiannya di masyarakat. Suatu saat datanglah seorang tawanan Belanda yang kabur ke tempatnya karena hendak dihukum mati.

Ketika tentara VOC datang untuk menangkap tawanan itu, Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus membela keturunan Cina itu dan siap menggantikannya. Karena segan dengan Habib, Belanda pun meninggalkan kediaman Habib tanpa membawa tawanan itu.

Haru dengan pembelaan Habib, buron Belanda itu pun tertarik belajar Islam dan akhirnya menjadi seorang Muslim, sekaligus menjadi murid pertama Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus. Oleh Habib, warga Cina ini diberi nama Abdul Kadir yang dikenal bernama Haji Abdul Kadir. “Kini makam keduanya saling berdekatan,” ujar Sulaeman, Pengurus Masjid Luar Batang.

Bagunan peninggalan Masjid Luar Batang ini sudah mengalami perubahan hampir 90 %. Tapi bukan berarti nilai historisnya hilang ditelan masa. Setelah Gubernur DKI Jakarta meresmikan bangunan tersebut sebagai cagar budaya tahun 1996, sebagian benda-benda sejarah itu direnovasi dengan sentuhan arsitektur modern.

Pengunjung Masjid Luar Batang masih bisa mendapatkan air sumur tua yang kini dikemas dalam bentuk gentong hitam besar. Letaknya berada di samping pintu masuk makam Habib Husein. Masuk sedikit ke teras masjid, jamaah akan melihat tempat makam Habib Husein beserta muridnya Haji Abdul Kadir yang ditutup kain hijau bertuliskan Arab.

Pengunjung akan semain heran ketika masuk di ruang utama masjid. Di sana terdapat 12 pilar utama yang berdiri kokoh namun sama sekali tidak menyentuh atap masjid. Menurut Sulaeman, ke 12 pilar berwarna putih dengan garis hijau itu sengaja tetap dibiarkan berdiri di sana untuk melestarikan bangunan masjid lama. [FR]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 0817-19-5001 Terima kasih

Check Also

Resmikan Masjid, Bupati Ciamis: Makmurkan Masjid Agar Ciamis Damai

SM| Ciamis–Bupati Ciamis Herdiat Sunarya meresmikan Masjid AL Ikhlas Karta Praja Perumahan Bumi Pakarangan Ciamis, …

Translate »