Home / Profil Masjid / Masjid Raya / Masjid Cipaganti, Masjid Tertua di Kota Bandung

Masjid Cipaganti, Masjid Tertua di Kota Bandung

SUARAMASJID.com| Bandung–Ada banyak sosok di balik berdirinya Masjid Cipaganti, Jalan Cipaganti (sekarang Jalan RAA Wiranatakusumah). Nama CP Wolf Schoemaker adalah yang paling sohor. Warga Belanda itu menjadi mualaf tahun 1930 dan membangun Masjid Cipaganti pada tahun 1933 sebagai wujud cintanya terhadap Islam. Karya Wolf lainnya di Bandung antara lain Gereja Katedral, Vila Isola, dan Penjara Banceuy.

Berbeda dengan Wolf Schoemaker, nama Nyi Oerki tak banyak yang tahu. Padahal, dia punya peran penting. Dialah yang mewakafkan tanah untuk Masjid Cipaganti. Nyi Oerki adalah gadis pribumi yang dinikahi pengusaha Italia, Pietro Antonio Ursone. Saat itu, dia tinggal di Jalan Kejaksaan. Dia seorang Muslim, sedangkan Antonio Ursone adalah seorang Katolik taat.

Antonio Ursone adalah pengacara, pengusaha cokelat dan olahan susu Lembang berskala ekspor. Restoran Bandung Milk Center di Jalan Aceh, tak terlepas dari kejayaan bisnis Ursone. Dia juga juragan tanah. Asetnya tersebar di Lembang, Kota Bandung, Subang, dan Sukabumi.

Tanahnya di Bandung juga dia sewakan. Beberapa bukti sewa-menyewa itu masih disimpan ahli warisnya, Roni Noma, sang cucu. Di perusahaan cokelat bernama “Mafalda” (nama anak tunggal Antonio Ursone-Nyi Oerki), Nyi Oerki menjadi komisaris. Slip gajinya pun masih tersimpan rapi.

“Dulu yang mewakafkan tanah itu Nyi Oerki. Maksudnya, karyawan pabrik cokelat bisa beribadah di sana,” kata Roni (77), ditemui di rumah peninggalan kakeknya, Jalan Hata, 200 meter dari Masjid Cipaganti.

Pabrik cokelat Mafalda ada di belakang masjid. Namun, Roni yang pernah jadi atlet sepeda itu, sudah lupa ukuran tanah yang diwakafkan. Di tanah wakaf itulah, berdiri satu-satu­nya masjid di Kota Bandung yang masih bertahan keaslian arsitekturnya.

Masjid Cipaganti Penuh Makna

Menurut Juru Pelihara Masjid Cipaganti, Uju Dimyati, masjid itu bisa menampung 1.500 orang. Satu saf bisa diisi 100 orang. Tak ada yang diubah pada masjid yang awalnya berukuran 15 meter x 9 meter itu. Renovasi hanya di bagian depan (imam) karena mulai lapuk. “Sayap kanan dan kiri hanya tambahan. Dibangun tahun 1979, waktu Wali Kota Pak Ateng Wahyudi,” ujar pria yang menjadi jupel dan penjaga waktu salat sejak 1965 itu.

Pembangunan Masjid Cipaganti memakan waktu setahun dan diresmikan 27 Januari 1934. Itulah masjid pertama di Bandung utara yang kala itu menjadi kawasan permukiman elite bangsa Eropa (een Western Enclave) dan bangsawan pribumi. Pembangunan dimulai setelah ada bantuan biaya dari Bupati Bandung saat itu, RAA Hasan Soemadipradja dan sumbangan golongan bumiputra. Arsitektur Eropa dan Jawa berpadu pada masjid yang menjadi cikal bakal penyebaran dan pusat studi Islam di Bandung utara itu.

Arsitektur Jawa tampak pada atap sirap berbentuk tajuk tumpang dua dan empat saka guru di dalam masjid berornamen bunga bersulur serta ukiran kaligrafi berlafaz hamdalah. Unsur Eropa tampak dari lokasi masjid yang terletak antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra. Posisi ini sering disebut “tusuk sate”. Orang Eropa menyukai lokasi tusuk sate yang justru tidak disukai orang Tionghoa.[FR]

Sumber: pikiran-rakyat.com

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

JK Apresiasi Tampilan Masjid Baiturrahman yang Baru

SUARAMASJID.com| Aceh–Wakil Presiden Jusuf Kalla mengapresiasi wajah baru Masjid Raya Baiturrahman di Provinsi Aceh yang …

Translate »