Home / Berita Umat / Masjid Amir Hamzah, Kini Hanya Berukuran 64 meter

Masjid Amir Hamzah, Kini Hanya Berukuran 64 meter

SUARAMASJID| Jakarta–Basement Gedung Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya No 73 Jakarta Pusat, sejak sekitar dua tahun lalu difungsikan sebagai pengganti sementara Masjid Amir Hamzah yang sebelumnya telah dibongkar pada Agustus 2013.

Di satu bagian basement yang tidak begitu luas itu disulap seolah-olah menjadi masjid. Lalu ada sebuah ruangan yang digunakan sebagai sekretariat masjid. Ashar sore itu yang mengikuti jamaah shalat ada tiga shaf.

“Kalau magrib ini biasanya penuh, sampai tiga angkatan,” kata Pak Darno (77), mantan karyawan TIM yang kini bekerja di LKB Saraswati seperti dilansir Suara Islam Online. Kakek yang mengaku telah bekerja di TIM sejak 4 Februari 1980 itu adalah salah satu jamaah Masjid Amir Hamzah.

 

Ceritanya, sore itu Majelis Taklim Amir Hamzah hendak menggelar syukuran. Di antara 30 orang yang hadir itu nampak Ketua Pengurus Masjid Eko Wahyu Wibowo. Eko adalah Kasubag Tata Usaha UPT Planetarium dan Observatorium. Ia hadir untuk menyampaikan sambutan sekaligus mengabarkan jika Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM) Imam Hadi Utomo berhalangan hadir. Lalu ada sastrawan senior Sutardji Chalzoum Bachri dan dosen tetap IKJ Tri Aru Wiratno.

Sore itu selain mendengarkan sambutan dari Ketua Masjid yang memaparkan tentang pembangunan kembali Masjid Amir Hamzah, pembacaan puisi oleh alumni IKJ, hadirin juga diajak membaca surat Yasin secara bersama-sama. Acara ditutup dengan makan bersama.

Majelis Taklim Amir Hamzah mengaku bersyukur atas pembangunan kembali Masjid yang dibongkar di era Gubernur Jokowi itu, tetapi mereka tak bisa menyembunyikan juga rasa kekecewaan yang mendalam. Apa pasal?

Alasannya, karena Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Djarot yang tinggal menunggu hari untuk lengser ini “memaksakan” diri membangun kembali masjid hanya dengan ukuran 8×8 meter. “Ini kecil sekali,” kata Sekretaris Masjid Tri Aru Wiratno.

Apalagi, sudahlah kecil, proses pembangunan masjid ini pun dikebut. Kurang dari dua bulan. Target awalnya pada 15 Oktober, sehari sebelum pelantikan Gubernur-Wagub baru Anies-Sandi, masjid ini harus jadi dan siap diresmikan. Tetapi kemudian malah dimajukan, 11 Oktober sudah harus jadi. Padahal, Sabtu sore saat anggota Majelis Taklim Amir Hamzah menyambangi lokasi, proses pembangunan masih berjalan sekitar 60 persen. “Ini dibangun hanya untuk memenuhi target,” kata Aru.

Dosen Seni Murni IKJ ini mengungkapkan, sebenarnya sebelum dilakukan pembongkaran Masjid Amir Hamzah yang tanpa koordinasi itu, lanskap pembangunan Masjid yang baru sudah dibuat. Desainnya megah, luasnya sekitar 1000 meter persegi. Denah dan maketnya pun sudah jadi. Posisi Masjid di bagian depan. Desain ini disebut telah disetujui oleh Pemprov DKI Jakarta. “Ini satu kesatuan dengan IKJ, TIM, Planetarium dan kantin,” jelas Aru.

Sayangnya, rencana itu ternyata tak terlaksana. Jokowi, sebagai gubernur pada 2014 naik menjadi Presiden. Sementara penggantinya, Ahok, saat itu berseteru keras dengan DPRD. Alhasil, dana pembangunan masjid yang menurut informasi telah siap, tidak ada yang bisa dan mau menggunakan karena takut berurusan dengan KPK.

Karena pengelolaan dan pembangunan Masjid Amir Hamzah ini sepenuhnya menjadi kewenangan Pemprov, pengurus masjid, majelis taklim, dan para dosen serta mahasiswa IKJ yang menjadi jamaah masjid pun tak bisa berbuat apa-apa. Posisi mereka sangat lemah. “Kami prihatin, mengeluh sendiri-sendiri. Beruntung ada WA Grup, kami bisa koordinasi,” kata Aru.

Begitu pula ketika Masjid ini hendak dibangun kembali. Juga tidak ada koordinasi yang bagus dengan beragam pihak yang berkepentingan. Dana pembangunan menghabiskan berapa mereka juga tidak tahu. Jamaah diminta terima begitu saja. Apalagi, kata Aru, di internal sendiri juga terjadi pertarungan antara kalangan yang memperjuangkan masjid dengan mereka yang menolak keberadaan masjid.

“Ada yang bilang, masa disini (TIM, red) ada masjid. Kalau azan bagaimana?. Di IKJ orang-orang kiri seperti itu, ngapain ada masjid?” ungkap lelaki kelahiran Jakarta, 16 Februari 1963 itu.

Tetapi rupanya Allah Swt berkehendak lain. Walaupun ada yang menolak, Masjid Amir Hamzah –meski ukurannya tak lebih luas dari ukuran Mushola pada umumnya– justru dibangun di bagian depan dan sangat mencolok.

Masjid Amir Hamzah ini sebenarnya dibangun di atas lahan yang cukup luas, hampir 1000 meter persegi sesuai lanskap awal pembangunan Masjid. Tetapi sayang sebagian lahan justru akan dibuat sebagai tempat parkir.

Aru, yang walaupun mengaku belum diberi Surat Keputusan, saat ini diminta menjadi Sekretaris Masjid. Ia dan jamaahnya, para alumni IKJ, aktivis Mimazah, Majelis Taklim dan mahasiswa IKJ, saat ini mengaku hanya bisa bersyukur atas pembangunan kembali masjid ini. Selajutnya, dia mengaku akan mengikuti perkembangan dan menjalin komunikasi dengan gubernur-wagub baru, Anies-Sandi.

“Ini akan memotivasi kita untuk memakmurkan majsid. Bukan hanya untuk ibadah seremonial tapi satu bagian dari kehidupan Islam, terutama terkait dengan kesenian,” pungkas dia.

Anggota Majelis Taklim Amir Hamzah akan terus menuntut supaya Masjid Amir Hamzah dibangun yang representatif. “Kembalikan Masjid Amir Hamzah kami dengan luas yang sama, bukan seperti ini,” teriak mereka saat meninjau lokasi pembangunan. Bahkan ada salah satu yang nyeletuk, “Ini Masjid apa Villa, kok imut?”. [FR]

Sumber: Suara Islam

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Kiai Nonop: Ukhuwah Islamiyah Kunci Kemenangan

SUARAMASJID| Garut–KH. Nonop Hanafi, pelopor jalan kaki saat Aksi Bela Islam beberapa waktu lalu dari …