Home / Profil Masjid / Masjid Agung / Masjid Agung Solo, Balutan Khas Keraton Surakarta

Masjid Agung Solo, Balutan Khas Keraton Surakarta

Mengunjungi Kota Solo, tak lengkap jika hanya menyaksikan peninggalan Kerajaan Mataram Surakarta, tanpa singgah ke Masjid Agung Solo. Masjid yang dibangun pada abad ke-18 ini terletak satu kompleks dengan Keraton Surakarta.

SOLO-SM. Kota Solo dikenal juga dengan sebutan Kota Surakarta. Kota ini memiliki khazanah kebudayaan Jawa. Hal ini tercermin dari keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

MasjidAgung Solo sebagai masjid resmi keraton yang sejak dahulu digunakan sebagai tempat untuk melangsungkan berbagai ritual keagamaan, seperti upacara Garebeg Sekaten yang hingga sekarang masih rutin dilaksanakan setiap bulan Muharam.

solo1Bicara tentang Masjid Agung Solo, tak bisa dilepaskan dari peran serta Keraton Solo saat itu. Menurut catatan sejarah, Masjid Surakarta ini merupakan Masjid Negara atau Kerajaan. Pasalnya, pada saat itu semua unsur yang mengelola masjid merupakan para abdi Keraton. Status Masjid Agung berstatus sebagai Masjid Negara atau Masjid Kerajaan, sebab semua pengelolaan masjid langsung ditangani pihak Keraton.

Pembangunan Masjid Agung ini dimulai pada tahun 1763 oleh Sunan Paku Buwono III dan berhasil dirampungkan pada tahun 1768. Lokasinya sangat strategis, karena berdekatan dengan pasar tradisional Klewer. Letaknya berdekatan kurang lebih 100 meter dengan pasar Klewer, sehingga banyak dikunjung pengunjung. Para pengunjung baik dari domestik maupun luar negeri.

Masjid Agung Solo memiliki luas tanah 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Sementara itu, bangunan Masjid Agung ini secara menyeluruh disetting berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka.

Masjid Agung terdiri serambi, di mana serambi ini memiliki semacam lorong yang menjorok ke depan (tratag rambat) yang bagian depannya membentuk kuncung. Ruang shalat utama, mempunyai 4 saka guru dan 12 saka rawa dengan mihrab yang dilengkapi dengan mimbar berukiran dari kayu pilihan.

Selain itu, ada juga tempat shalat untuk wanita(Pawestren) dan Balai Musyawarah, tempat berwudhu berpagar keliling yang dibangun pada masa Paku Buwono VIII tahun 1858.

Pagongan, terdapat di kiri dan kanan pintu masuk masjid. Bentuk dan ukuran bangunan sama yaitu berbentuk pendapa yang digunakan untuk tempat gamelan ketika upacara Sekaten. Istal dan garasi kereta untuk raja ketika shalat Jumat dan Gerebeg diperkirakan dibangun bersamaan dengan dibangunnya Masjid Agung Surakarta ini.

Di kompleks Masjid Agung Surakarta ini juga terdapat bangunan yang disebut Gedang Selirang, bangunan tempat tinggal yang diperuntukkan bagi para abdi dalem yang mengurusi masjid.

Masjid ini juga memiliki menara yang terletak di bagian timur, dibangun pada tahun 1901. Arsitekturnya bergaya menara New Delhi, India. Sementara gapuranya bergaya Persia. Di atas pintu gerbang utama Masjid Asolo2gung terdapat hiasan temple yang indah berbentuk bulat telur kayu ukiran yang menguraikan bulan, bintang, matahari, dan bumi.

Jam Istiwak dan Penentuan Shalat

Ada sisi menarik dari sekian cerita di Masjid Agung Solo ini, salah satunya adalah cara menentukan datangnya waktu shalat Dhuhur dan Ashar. Pasalnya, pengurus masjid terbiasa dengan menggunakan jam istiwak sebagai penentu masukanya shalat.

Menurut catatan sejarah, jam istiwak ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1757. Jam istiwak ini terpasang tepat di arah kiri halaman masjid atau di depan kantor TU Masjid Agung Solo.

Cara kerja jam istiwak pun tidaklah rumit, cukup dengan mengandalkan bayangan matahari. Jam yang berbentuk cekungan setengah diamater lingkaran yang dilapisi lempengan kuningan ini akan menciptakan bayangan yang jatuh di permukaan kuningan tersebut. Dengan sebagai penanda jarum besi berukuran 10 centimeter dilekatkan tepat di tengah-tengah sejulur besi ukuran panjang 18 centimeter yang menghubungkan kedua sisi permukaan kuningan.

Menurut berbagai sumber yang dihimpun Suara Masjid, akurasi jam istiwak ini bisa diandalkan dan tidak mungkin salah karena mengandalkan sinar matahari. Jika dibandingkan jadwal salat abadi selisih dua menit ke belakang, sedangkan dengan jam konvensional dengan satuan WIB terpaut 25 menit lebih cepat jam istiwak. Kelemahan dari jam unik ini kalau matahari lagi enggan menampakkan dirinya, jam unik ini juga enggan untuk menunjukkan angka yang tepat di penunjuk jamnya.[FR]

 

Komentar

About fathur roji

Penulis dan Pengelola Media Cetak & Online, Penulis Buku Biografi. Tim Suara Masjid siap menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Masjid untuk membangun website masjid menjadi lebih update, InsyaAllah. Hubungi saya di suaramasjidkita@gmail.com, terima kasih.

Check Also

Masjid Cipaganti, Masjid Tertua di Kota Bandung

SUARAMASJID.com| Bandung–Ada banyak sosok di balik berdirinya Masjid Cipaganti, Jalan Cipaganti (sekarang Jalan RAA Wiranatakusumah). …

Translate »