Home / Berita Umat / Lima Masjid Tua di Nusantara

Lima Masjid Tua di Nusantara

SUARAMASJID.com| Jakarta–Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki khazanah keislaman yang tersebar di penjuru nusantara. Khazanah keislaman ini tak lepas dari peran masjid yang dibangun di awal-awal Islam dikenal di negeri ini.

Ada beberapa masjid yang menjadi saksi sejarah bagaimana Islam sudah nilai-nilai yang terkandung di dalam alQuran dan hadis. Dari masjid-masjid inilah, masyarakat sekitarnya mulai mengenal keagungan Islam sebagai agama rahmatan lil alamien.

Berikut adalah lima masjid tertua yang dibangun oleh umat Islam tempoe doeloe.

1. Masjid Saka Tunggal (1288)

Masjid Saka tunggal terletak di Desa Cikakak Kecamatan Wangon. Tahun yang terukir di Guru Saka atau pilar utama tertulis tahun 1288. Proses pembangunan masjid kuno ini ditulis dalam buku karangan Kyai Mustolih, pendiri masjid. Namun tentang tahun masih ada perdebatan antara tahun hijriah, tahun saka dan tahun masehi.

Masjid ini terletak sekitar 30 km dari kota Purwokerto. Disebut Saka Tunggal karena di masjid ini di tengahnya ada satu tiang (saka tunggal) sebagai maksud gambaran bahwa Allah itu satu.

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

2. Masjid Wapauwe (1414)

Masjid yang berada di Maluku ini masih terawat apik, masjid yang dibangun tahun 1414 masehi ini sebagai pusat penyebaran Islam di Maluku masa lampau. Mulanya masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara).

Kedatangan perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

3. Masjid Ampel (1421)

Masjid Ampel didirikan pada tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel dengan dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, dan para santrinya.
Di atas sebidang tanah di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel) Kecamatan Semampir sekitar 2 kilometer ke arah Timur Jembatan Merah, Sunan Ampel selain mendirikan Masjid Ampel, juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel. Cuma sayangnya, ihwal kapan selesainya pembangunan Masjid Ampel ini, tidak ada catatan tertulis yang menyebutkannya.

Masjid Sunan Ampel yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami. Masjid ini masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya. Di masjid inilah saat itu sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa untuk membicarakan ajaran Islam sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa.

Masjid Ampel berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jawa Timur dan diyakini memiiki ‘karomah’. Seperti disebut dalam cerita masyarakat, saat pasukan asing menyerang Surabaya dengan senjata berat dari berbagai arah dan menghancurkan kota Surabaya namun tidak menimbulkan kerusakan sedikitpun pada Masjid Ampel bahkan seolah tidak terusik.

4. Masjid Agung Demak (1474)

Masjid Agung Demak terletak di desa Kauman, Demak, Jawa tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para Wali Songo untuk penyebaran agama Islam. Bahkan para wali bermusyawarah di masjid Demak untuk membahas penyebaran agama Islam di Indonesia.

Masjid ini didirikan oleh Raden Patah rada pertama dari Kesultanan Demak Bintoro pada abad 15 masehi. Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai Saka Tatal bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut saka Majapahit.

Konon ketika Sunan Kalijaga kesulitan memperoleh kayu jati, akhirnya mengumpulkan tatal-tatal dan diikat menjadi sebuah tiang yang hingga kini masih dilestarikan. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

5. Masjid Sultan Suriansyah (1526)

Masjid Sultan Suriansyah dibangun tahun 1526 oleh Raja Banjar pertama di Kalimantan Selatan. Masjid ini terletak di utara Kecamatan Kesehatan, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan ibukota Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.

Arsitektur tahap konstruksi dan atap tumpang tindih, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Gaya masjid tradisional di Banjar mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan utama. Masjid ini dibangun di tepi sungai di Kecamatan Kesehatan. Hingga kini masjid Sultan Suriansyah terawat dengan baik dan makin ramai. [FR]

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Kiai Nonop: Ukhuwah Islamiyah Kunci Kemenangan

SUARAMASJID| Garut–KH. Nonop Hanafi, pelopor jalan kaki saat Aksi Bela Islam beberapa waktu lalu dari …