Home / Khazanah / Jejak Ulama / KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk Presiden yang saat itu Susilo Bambang Yudhoyono dan Grand Sheikh al-Azhar Mesir Prof Dr Muhammad Sayyid Thanthawi, langsung menuju ke tempat ramah tamah. Namun, salah seorang pemimpin Pondok Modern Gontor, Drs KH Imam Badri ijin tak bisa ikut beramah tamah. Pria 77 tahun itu memilih pulang ke rumah. Setiba di rumah, ia muntah-muntah.

Itulah hari terakhir Kiai Badri menginjakkan kakinya di pondok. Sebab, setelah itu ia menjalani pemeriksaan dan perawatan dokter sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS Darmo, Surabaya. Ia berpulang ke Rahmatullah, Kamis (8/6/2006), pukul 20.45, setelah tim dokter yang merawatnya gagal mengatasi penyakit yang menyerangnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kegembiraan atas suksesnya acara 80 Tahun berujung kesedihan karena Pondok Gontor dan umat Islam kehilangan sosok kiai yang bersahaja. Jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga besar Pondok Modern Gontor –terletak di komplek pondok– ba’da shalat Jumat (9/6/2006). Maka selesailah tugas pengabdian almarhum selama 55 tahun di Pondok Modern Gontor.

Sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah pengabdian. Karena itulah bagi rekan-rekan sejawat sesama pemimpin Pondok Modern Gontor, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA dan KH Hasan Abdullah Sahal, almarhum adalah guru sejati mereka.

Dalam penilaian Kiai Hasan Sahal, mendiang KH Imam Badri merupakan sosok guru yang rajin dan teliti dalam mencatat semua kejadian di pondok. Catatan-catatan almarhum yang ditulis bertahun-tahun tersusun rapi di atas meja kerjanya.

Tak cuma sekadar mencatat, tambah Kiai Hasan, bahka ia juga menjilidnya. “Sebelum berpidato almarhum selalu membuat i’dad-nya. Almarhum adalah salah satu yang mewarisi sifat ketelitian KH Imam Zarkasyi –salah satu pendiri Pondok Modern Gontor,” ujar Kiai Hasan.

Bahkan Kiai Badri ditunjuk menggantikan KH Imam Zarkasyi sebagai Direktur KMI (Kulliyatul Mualimin al-Islamiyah) ketika Kiai Zarkasyi meninggal dunia pada 1985. Pria kelahiran Ngabar (Ponorogo), 20 Agustus 1929, itu menjabat sebagai direktur KMI sampai tahun 1999 sebelum akhirnya terpilih sebagai salah satu pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor (1999-2006) dan ketua II Badan Wakaf Pondok Modern (1999-2006).

“Kiai Badri selalu memegang teguh apa yang digariskan oleh KH Imam Zarkasyi,” ujar Direktur KMI KH Syamsul Hadi Abdan.

Menurutnya, sewaktu menjadi direktur KMI, Kiai Badri adalah sosok penegak disiplin. Ia selalu memeriksa catatan persiapan guru mengajar (i’dat) atau menegur guru yang terlambat. “Kiai Badri mempunyai obsesi seorang guru harus siap kapanpun untuk mengajar. Kalau perlu guru tidur dengan mengenakan dasi agar ketika bangun siap untuk mengajar. Itu yang dikatakan Kiai Badri dalam beberapa pertemuan dengan guru KMI setiap Kamis,” paparnya.

Sebagai salah satu pemimpin Pondok Modern Gontor, Kiai Badri menurut H Abdullah Baharmus Lc, salah satu anggota Badan Wakaf Pondok Modern, merupakan sosok pejuang yang ikhlas. Walau umurnya mendekati uzur, ia bersama dua pemimpin Pondok Modern Gontor lainnya –Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA dan KH Hasan Abdullah Sahal– mengelola pondok dengan sepenuh hati. “Beliau mengadakan bermacam-macam perbaikan dan pembaruan untuk pondok. Apapun akan beliau korbankan untuk kepentingan pondok,” ujar Baharmus.

Menurutnya, sebagai kader pondok yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk perjuangan menegakkan ajaran Islam, Kiai Badri tidak hanya berhasil menerima ilmu dari Trimurti –tiga serangkai pendiri Pondok Modern Gontor– tapi juga berhasil menerapkannya dalam tugas dan kehidupan sehari-hari.

Tak cuma itu, ia juga berhasil mentransfer ilmu kepada generasi penerus. “Beliau paham betul akan prinsip Trimurti. Karena itu beliau mampu menjaga ide-ide Trimurti. Beliau juga berhasil menyumbangkan anaknya sendiri, yaitu Lukman Hakim, sebagai kader Pondok Modern Gontor,” terang Baharmus.

Sementara itu Dr Hidayat Nurwahid MA yang pernah menjadi santrinya mengatakan, almarhum yang ia kenal saat menjadi anggota Badan Wakaf Pondok Modern– hampir tidak ada perbedaan. Baik dalam hal kebaikan maupun dalam hal fisik. “Beliau masih tampak sehat. Beliau mengajarkan tentang pentingnya menjaga kesehatan. Yang membanggakan, beliau bukan hanya memberi nasihat, tapi juga mengamalkan apa-apa yang dikatakan,” papar Hidayat.

Kiai Badri memang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatan. Almarhum sangat menggemari bulu tangkis, tenis meja, dan bahkan tenis lapangan.

Menurut Hidayat, lulusan Institut Studi Islam Darussalam (ISID) tahun 1991 itu adalah sosok guru yang memiliki kejernihan berpikir, hati-hati dalam mengambil keputusan, dan berani menyatakan pendapat.

“Tidak berbeda dengan apa yang diajarkan beliau di Gontor.” Aditiar Winarto, salah seorang guru KMI (Kulliyatul Muallimin al- Islamiyah) yang banyak membantu almarhum dalam menulis buku, mengatakan tutur kata Kiai Badri tertata rapi saat berbicara sehingga mudah dimengerti oleh pendengarnya.

“Karena itu perkataan beliau sangat mudah ditranskrip,” ujar Aditiar.

Karya-karya almarhum yang sempat dibukukan antara lain: Ilmu Jiwa Anak (1975), Muhadharat fi-l-Ilmi Da’wah (1975), Nasihat dan Petunjuk untuk Guru Siswa KMI Pondok Modern Gontor (1990), dan Bekal Hidup di Dunia dan Akhirat (2003).

Anak bungsu almarhum, H Lukman Hakim Badri Lc MAg, mengisahkan pengalamannya ketika masih anak-anak. Almarhum sangat menekankan pendidikan membaca al-Qur’an kepada anak-anaknya. Lukman dan saudara-saudara dididik dan diajar sendiri oleh almarhum di mushala dekat rumah di Desa Joresan –berdekatan dengan Desa Gontor– ba’da shalat Maghrib.

Bersama mereka juga ikut belajar anakanak desa yang lain. Selain waktu itu, Lukman dan saudara-saudaranya juga wajib membaca al-Qur’an seusai shalat Shubuh.

Menurut Lukman, lulusan KMI tahun 1951 itu adalah sosok yang gemar membaca dan menulis. Di rumahnya tersimpan koleksi buku-buku almarhum. “Kami semua diminta Bapak untuk bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya,” kenang Lukman, guru KMI dan dosen ISID.

Almarhum Kiai Badri meninggalkan istri, tiga anak, dan delapan cucu. Selamat jalan wahai sang guru. Selamat jalan wahai sang mujahid. Semoga kami dapat meneruskan perjuanganmu. Amin. [FR]

Sumber majalah gontor

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

Asotthalom Resmi Larang Pembangunan Masjid

SUARAMASJID.com| Asotthalom–Kota Asotthalom, Hungaria, resmi melarang pembangunan masjid, kumandang azan dan busana Muslim. Kota ini …