Home / NETIZEN KAMPUS / Keimanan yang Selalu Akan Diuji

Keimanan yang Selalu Akan Diuji

Oleh : Nurul Ummah (STEI SEBI Semester 5)

Fenomena akhir zaman ini seringkali dikaitkan dengan keimanan yang tidak sejalan dengan tingkah laku ataupun pola berfikir. Banyak dari kita penganut agama Islam tidak benar-benar mengetahui apa makna dari dua kalimat syahadat. Merasa bahwa sudah cukup ketika menyatakan diri sebagai seorang muslim. Padahal ketika telah bersaksi bahwa ‘tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah’, terdapat konsekuensi didalamnya. Dan pengakuan iman itu masih harus dibuktikan dengan sikap dan tindakan ketika dihadapkan ujian.

Pada kenyataannya banyak dari kita yang terkadang ketika didatangkan ujian merasa bahwa Allah tidaklah adil, merasa hidup ini begitu menyakitkan. Pemikiran-pemikiran seperti ini terjadi dikarenakan kurangnya ilmu. Kehidupan dunia adalah tempat ujian, dimana akan diuji apakah manusia itu beriman atau dusta. Dan Allah telah berfirman dalam surat Al Ankabut ayat dua yang memiliki arti, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan;’ Kami Telah Beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Dalam tafsir al-Jalalain disebutkan bahwa ujian yang dimaksud yaitu ujian yang akan menampakkan keimanan mereka dan ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik. Adapun asbabun nuzul ayat ini adalah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa orang-orang yang berada di kota Mekkah yang telah masuk Islam, mendapatkan surat dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang berada di Madinah. (Isi surat tersebut menyatakan) bahwa keislaman mereka tidak akan diterima kecuali jika mereka berhijrah. Maka berhijrahlah mereka ke Madinah. Akan tetapi mereka dapat disusul oleh kaum musyrikin, sehingga digiring kembali ke Mekkah. Setelah turun surat al ankabut ayat 1-2 orang-orang yang berada di Madinah mengirim surat kembali kepada mereka, yang menegaskan bahwa Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan keadaan mereka. Dalam ayat tersebut dikemukaan bahwa hijrah dengan segala pengahalangnya adalah ujian terhadap keimanan mereka. Merekapun berangkat kembali berhijrah dan bertekad untuk memerangi orang-orang yang menghambatnya.

Setelah memahami ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Allah SWT. memberikan ujian bukan semata-mata tidak memiliki arti, tetapi Allah sedang menguji keimanan hamba-Nya. Adapun ujian yang diberikan Allah SWT tidak selalu dalam bentuk yang memberatkan atau yang kita benci. Akan tetapi ada juga dalam bentuk yang menyenangkan sebagaimana dalam firman Allah SWT. dalam surat Al Anbiya ayat 35 yang memiliki arti, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).”. Contoh ujian yang menyenangkan, seperti ujian harta. Harta adalah sesuatu yang menyenangkan bagi manusia, padahal sebenarnya Allah SWT. sedang menguji apakah harta tersebut digunakan sebagaimana mestinya? Apakah harta tersebut disisihkan sebagian untuk orang-orang yang membutuhkan?. Begitulah kiranya ujian yang Allah SWT. berikan kepada hamba-Nya.

Sedangkan ujian yang menyulitkan seperti tertimpa penyakit, apakah kita mampu mengambil hikmah dari penyakit tersebut? apakah akan menambah keimanan dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya? dll. Semua ujian tersebut berfungsi untuk membuktikan kebenaran keimanan seseorang. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian yang diberikan sesuai dengan kadar keimanan sesorang. Dalam sabda Nabi, “ Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian berikutnya dan berikutnya. Seseorang dicoba sesuai dengan (kadar) agamanya. Ketika dia tetap tegar, maka ditingkatkan cobaanya.( HR Al-Tirmidzi)

Dalam hidup ini kita akan selalu  dihadapkan pada berbagai macam ujian.Apapun ujian itu tergantung dengan bagaimana kita menyikapinya. Sebagai seorang yang beriman hendaknya kita berusaha untuk lebih mengikhlaskan ketika sedang tertimpa ujian yang memberatkan ataupun menyenangkan. Dan jadikan itu sebagai batu loncatan untuk menambah kadar keimanan kita. Yang harus kita pahami yaitu balasan itu tergantung dengan jenis amalan. Semoga kita bukan termasuk dalam golongan orang yang merugi. Aamiin.

Wallahu a’lam..

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 0817-19-5001 Terima kasih

Check Also

Cinta Itu Ikhlas, Bukan Enggan Melepas

Oleh: Nurul Ulfi (Mahasiswi STEI SEBI) Pada Dasarnya kita sebagai manusia pasti memiliki Cinta. Sejatinya …

Translate »