Home / Berita Umat / Internasionalisasi Haji Dinilai Berbahaya Bagi Stabilitas Dua Kota Suci

Internasionalisasi Haji Dinilai Berbahaya Bagi Stabilitas Dua Kota Suci

SUARA MASJID | Jakarta, Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara menyesalkan keinginan sebuah negara menginternasionalisasi pengurusan ibadah Haji, ditengah umat Islam sedang berupaya membebaskan tanah suci Baitul Maqdis di Palestina.

Menurut Rabithah, upaya internasionalisasi Haji membuat destabilitas tanah Suci Mekah dan Madinah.

Pernyataan itu diungkapkan Rabithah dalam seminar internasional pembelaan tanah suci Islam di Grand Hotel Cempaka, Jakarta, pada 22 Syawal 1439 H/6 Juli 2018 M.

“Sungguh sangat memprihatinkan dan sekaligus mengkhawatirkan pada saat Baitul Maqdis masih dalam cengkraman penjajah Zionis Israil karena umat Islam dunia masih belum bersatu untuk mengembalikan kepangkuannya, usaha-usaha untuk mengacaukan kedamaian dan stabilitas dua kota suci Mekah dan Madinah mulai didengungkan lagi, di antaranya dengan isu dan wacana internasionalisasi dua kota suci itu yang dipelopori oleh negara tertentu,” kata Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Zaitun Rasmin membacakan pernyataan sikap bersama Rabithah.

Menurut Zaitun, isu dan gagasan internasionalisasi Haji sangat berbahaya bagi negara pelayan dua kota suci khususnya, stabilitas kawasan, dan bagi umat Islam di seluruh dunia pada umumnya.

“Oleh sebab itulah, kewajiban kaum muslimin di dunia untuk menolak gagasan tersebut dan bersatu padu untuk membela kesucian dan keselamatannya, ”

Atas dasar pemikiran dan fakta tersebut, peserta muktamar Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam, menyerukan kepada semua kaum muslimin terutama para pemimpin dan ulamanya agar menyikapi permasalahan kota-kota suci itu secara adil dan seimbang.

“Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah,”ujarnya.

Demikian pula sebaliknya, lanjut Zaitun, tidaklah adil jika menjaga kemuliaan Haramain sementara penderitaan Baitul Maqdis dibiarkan tanpa ada yang mempedulikannya.

Seminar itu menghadirkan sejumlah pembicara pemerhati pembebasan Palestina diantaranya, Syaikh Dr. Murawi Nassar dan Syaikh Dr. Isa Al Asmali, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Zaitun Rasmin, Ust Ahmad Rofii, dan Ust Wafi dari Jatman NU. (muaz)

Komentar

About Muaz

Check Also

SAPUHI & IITCF Gelar Educational Trip Wisata Muslim ke Eropa

SUARAMASJID| Jakarta–Dalm rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan wisata Muslim ke mancanegara, Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia …

Translate »