Home / Khazanah / Jejak Ulama / Abdullah Said Merintis Hidayatullah di Gunung Tembak
Foto stishid

Abdullah Said Merintis Hidayatullah di Gunung Tembak

SUARA MASJID–Gunung Tembak, sebuah desa kecil berjarak 33 km dari Kota Balikpapan. Dulu, kawasan ini tandus. Tak banyak penduduk yang bercocok tanam gagal di tempat ini. Suatu hari, datanglah para dai yang dipimpin Abdullah Said, merubah Gunung Tembak menjadi daerah subur dan makmur.

Saat itu, awal tahun 1970-an, kawasan Gunung Tembak masih berupa hutan belantara. Demi menyiarkan Islam di wilayah ini, Abdullah berinteraksi dengan penduduk sekitar. Ia pun mengenalkan Islam dengan menjadi guru ngaji, membuka kursus mubaligh dan kegiatan dakwah lainnya. Berkat kerja kerasnya, Abdullah akhirnya mampu merintis pesantren yang kini memiliki ratusan cabang, yaitu Pesantren Hidayatullah.

saidAbdullah Said lahir tepat pada hari kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 di Sinjai, Sulawesi Selatan dan meninggal dunia di Jakarta, 4 Maret 1998. Ia mendapatkan bimbingan agama Islam langsung dari ayahnya, KH Abdul Kahar Syuaib, ia juga Sekolah Rakyat (SR) yang ada dikampungnya. Namun karena harus mengikuti ayahnya pindah ke Makassar, ia harus rela meninggalkan kampung halaman tercinta dan meninggalkan pendidikannya yang saat itu telah duduk di kelas 3, antara tahun 1952-1954.

Dia selesaikan SD dengan nilai tertinggi yang memungkinkannya bisa memilih sekolah lanjutan favorit. Dia memilih Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dengan masa studi 6 tahun yang siswanya mendapat beasiswa.

Sejak kanak-kanak, Abdullah senang membaca buku. Saat di PGAN Makassar. Kesukaan membaca dan mengoleksi buku tentu membutuhkan biaya. Namun ia bisa mengaturnya dengan memnyisihkan uang beasiswa yang ia dapat setiap bulan. Setiap bulan hampir tidak ada yang tersisa dari uang beasiswa, semua dibelikan buku.

Waktu libur kerap ia gunakan berwisata ke toko buku. Sejumlah toko buku di Makassar menjadi langganannya. Dia kecewa saat ada buku yang diinginkan, tapi uang di kantong tak mencukupi. Ia pun melobi penjaga toko agar buku yang diincarnya disisihkan. Dia berjanji, sesegera mungkin akan membelinya. Karena para karyawan toko itu telah mengenalnya sebagai si ‘kutu buku’.

Abdullah lulus PGAN dengan nilai tinggi, sehingga mendapat beasiswa ke IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Hanya setahun kuliah, ia berhenti karena merasa tak mendapat tambahan ilmu. Semua materi kuliah telah diserap dari buku-buku koleksinya.

Tak puas dengan sistem pendidikan yang ia terima, Abdullah merantau ke Jawa dengan belajar di berbagai pesantren. Termasuk di Pondok Pesantren Darussalam Gontor dan Pesantren Persis, Bangil, Jawa Timur.

Setelah belajar di berbagai pondok di Jawa, semakin meneguhkan hatinya untuk membuat pesantren yang mampu memberikan penerangan di masyarakat. Dia lalu pulang ke Sulawesi dan mengungkapkan niatnya untuk mendirikan pesantren kepada sanak-saudaranya. Namun keluarganya tidak begitu memberi respon positif. Karena keluarganya tidak percaya impiannya tersebut bisa direalisasikan. Mengingat usianya pada waktu itu masih sangat muda, sekitar 20 tahun.

Karena tidak mendapat respon, Abdullah hijrah ke Kalimantan Timur, tepatnya di Gunung Tembak mendakwahkan Islam. Akhirnya pada 7 Januari 1973 ia mendirikan Pesantren Hidayatullah yang menjadi cikal-bakal Hidayatullah di berbagai daerah lainnya. Lalu, melalui Musyawarah Nasional I pada 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah dideklarasikan sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas).

Di tengah-tengah upaya menyebarkan syiar Islam di Kalimantan fitnah merebak. Ia sempat ditangkap karena dituding terlibat gerakan reaksi sebagian pemuda Islam Ujung Pandang atas judi massal (toto). Untunglah setelah diklarifikasi ia dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan kembali sebulan kemudian.

Pada tahun 1975, Abdullah mendapatkan amanah mengelola tanah wakaf seluas setengah hektar di Karang Bugis, Balikpapan. Di atas lahan ini dibangun sebuah masjid darurat, perpustakaan, gedung serba guna untuk tidur, belajar, makan, dan terima tamu.

Namun, Karang Bugis dirasa bukan lokasi yang representatif untuk mendirikan pesantren. Sebab, kota tersebut terasa sempit dan tak punya peluang untuk perluasan wilayah. Selain itu, lingkungan tidak menolong untuk proses pendidikan yang diinginkan.

Untunglah, tahun 1976 walikota Balikpapan yang kala itu dijabat Asnawi Arba’in memberi wakaf tanah selus lima hektar di Gunung Tembak. Modal inilah yang kemudian dikembangkan hingga menjadi pesantren Hidayatullah yang berdiri sampai sekarang. Tepat pada 5 Agustus 1976, Pesantren Hidayatullah diresmikan oleh Menteri Agama yang kala itu dijabat Prof Mukti Ali.

Tahun-tahun berikutnya diisi dengan pengiriman tim dakwah ke seluruh pelosok Kalimantan Timur, sembari berupaya memperluas areal kampus. Pengiriman santri ini bertujuan memperkenalkan diri kepada masyarakat Kalimantan Timur sekaligus mencari santri di pelosok-pelosok desa. Pengiriman santri ini selanjutnya tak cuma terbatas di Kaltim, tetapi juga di pelosok tanah air, bahkan sampai ke Wamena Irian Jaya.

Baik santri yang dikirim ke pelosok maupun santri yang tinggal di pesantren diajarkan untuk hidup mandiri sebagaimana dilakukan para pendahulu mereka. Setiap kali mereka datang ke suatu daerah biasanya para santri ini tidak dibekali dana memadai.

Segala aktivitas di pondok ini diarahkan agar santri dan warga memiliki tauhid yang kuat yang hanya menggantungkan semuanya pada kekuatan Ilahi Robbi. Karenanya tidak heran bila para santri yang di tugaskan ke daerah, memiliki mental “jihat total” dalam arti tidak memiliki rasa takut terhadap apapun dan di medan tugas mana pun berada. [FR]

 

 

Komentar

About redaksi

Mau kirim tulisan kegiatan masjid? Hubungi 08577-600-5001 atau Telegram @suaramasjid Terima kasih

Check Also

KH. Imam Badri Sosok yang Teliti dalam Pendidikan

SUARAMASJID.com| Gelaran syukuran acara puncak peringatan 80 Tahun Gontor baru saja usai. Para undangan, termasuk …